PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF (Materi I)

Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.
Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :
  • The Felt Need, yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
  • The Problem, yaitu menetapkan masalah. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas, selanjutnya diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut, yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya, bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya.
  • The Hypothesis, yaitu menyusun hipotesis. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut, karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis.
  • Collection of Data as Avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori, hukum-hukum yang ada. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks; kompleks gejala maupun penyebabnya. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain, juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain, kegiatan ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis, yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi.
  • Concluding Belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah sebuah kesimpulan, dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran.
  • General Value of The Conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas, tidak saja berwujud teori, konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas, kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. Kemudian, tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan, maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini.

26 komentar:

  1. penalaran adalah............
    penalaran ada dua:1.penalaran induktif
    2.penalaran deduktif
    1.P.induktif itu apa:..........
    contoh:..........
    2.P.deduktif itu apa:..........
    contoh:..........
    sekian dan dan terima kasih.

    BalasHapus
  2. penalaran adalah............
    penalaran ada dua:1.penalaran induktif
    2.penalaran deduktif
    1.P.induktif itu apa:..........
    contoh:..........
    2.P.deduktif itu apa:..........
    contoh:..........
    sekian dan dan terima kasih.

    BalasHapus
  3. komentar ini sebagai tanda terima kasih atas artikel yg sangat berguna bagi saya.
    yg sdh baca tapi gak komentar, berarti kurang berterima kasih

    BalasHapus
  4. Brilyanhati: contoh deduktif, jika meneliti konsumsi rumah tangga untuk minyak, maka sebelum turun ke lapangan yang dipersiapkan adalah teori konsumsi, permintaan dan penawaran barang, dll; pertanyaan yang akan diajukan sudah jeas dan hampir baku, sampelnya jelas, dll artinya sudah disiapkan semua tinggal cari data.
    Kalau induktif, bisa jadi langsung ke lapangan untuk wawancara secara mengalir (contoh penelitian tentang konflik pilkada di desa X)artinya tidak perlu pakai kuesioner tapi tetapi menggunakan interview guide dan biasanya jenis pertanyaan terbuka dan di lapangan bisa berkembang.

    BalasHapus
  5. terimakasyih, ini buat materi UTS saya. doain yha.....
    dari jember...

    BalasHapus
  6. terima kasih y materi nya.. buat tugas daslog.hihii

    BalasHapus
  7. nindy mahasiswi solo3 Maret 2009 14.00

    pak ikutan baca artikelnya buat tugas kampus..
    makaci ya pak

    BalasHapus
  8. siti wahyuni1 April 2009 13.40

    pak berkat artikel bpa, alhamdulilah makalah saya bsa terbantu. terimakasih

    BalasHapus
  9. makasih artikelnya, kadang sya lupa kasih tau mhsw yang PPL (sy Guru). Kalo para PPL itu menjelaskan suatu materi pelajaran pada siswa saya, kadang keliatan bingung, mungkin karna pake deduktif, anak ga tau apa yang diomongin, baru kalo dikasih contoh pada "Oh, ho o". Nah bagusan manasih buat guru kalo ngajar. Induktif pa deduktif?

    BalasHapus
  10. To Guru, menurut saya tergantung konteks yang akan dibahas, kadang pokok bahasan tertentu perlu menggunakan penalaran deduktif, tetapi pada pokok bahasan yang lain perlu penalaran induktif. Jadi sebelum menyampaikan pokok bahasan perlu dipahami konteksnya dan berfikir sejenak bagaimana agar tepat dalam menyampaikan. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

    BalasHapus
  11. makasih bgt, jd bisa dapet bahan bwt tugas kuliah ni.. hehehe

    BalasHapus
  12. makasih atas artkel na mr.ssantoso, dengan ini bisa menambah referansi materi kuliah saya...

    BalasHapus
  13. mohon izin untuk mengutip materi di atas.
    terima kasih

    BalasHapus
  14. bagus banget nih........
    saya juga pengen mengutip materi ini kalau di perbolehkan.....
    untuk bahan tugas

    BalasHapus
  15. rizki ananda N.amalia24 September 2010 19.25

    contohnya pnelitian induktif dan deduktif tuh apaaa yaaa..??
    mksh..??

    BalasHapus
  16. To Rizki Ananda N Amalia, deduktif atau induktif itu cara berfikir atau penalaran, artinya dimulai dari mana penalaran tersebut dilakukan. Sedangkan untuk penelitian dapat dengan pendekatan kuantitatif atau kualitatif.

    BalasHapus
  17. Makasih ya... artikelnya amat bermanfaat sbagai literatur tuk anak didik saya... kalo bisa perbanyak contoh..okey...

    BalasHapus
  18. Teeerima Kasih Yaaaaaaa...,
    sangat Membantu saya untuk membuat sebuah resume

    BalasHapus
  19. saya copy yac Pak untuk bahan kuliah, terima kasih buanyakkkk ;)

    -poppy-

    BalasHapus
  20. putra arya darma19 Oktober 2011 22.35

    bsa berikan contoh dalam dunia olah rga gk,,tntang berdpkir dedukti dan induktif trsebut

    BalasHapus
  21. To Putra Arya Darma, kalau di dunia pendidikan (termasuk olah raga) biasanya lebih mengarah pana penalaran deduktif, yaitu berawal dari teori-teori yang ada dalam mengkaji sesuatu fenomena atau tindakan.

    BalasHapus
  22. mantap banget infonya f kalo boleh tanya.
    pada tahap mana the power of solving terpenuhi langkah2 penalaran deduktif dan iduktif???
    thnks before

    BalasHapus
  23. pada tahap mana the power of solving legal problem dlm penalaran deduktif dan induktif???
    thnks before

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa dua duanya... karena kedua penalaran tersebut dalam prakteknya selalu berputar

      Hapus

DAFTAR PENGIKUT BLOG

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Nopember 2011

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Nopember 2011

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO