Pola Solidaritas Kelompok Pedagang Warung Angkringan di Kota Ponorogo

KESIMPULAN :
Kelompok pedagang Warung Angkringan di Kota Ponorogo mayoritas adalah pedagang pendatang dari daerah Jawa Tengah, yaitu kota Sukoharjo, Solo, Klaten, Wonogiri dan Yogyakarta. Mereka mampu mengembangkan usahanya di Kota Ponorogo, yang ditunjukkan oleh pertambahan jumlah pedagang dari tahun ke tahun, karena sangat dipengaruhi oleh berjalannya modal sosial dan adanya jalinan solidaritas yang kuat di antara mereka.
Modal sosial yang telah berjalan di antara kelompok pedagang Warung Angkringan di Kota Ponorogo adalah berbentuk upaya saling memberikan informasi dan membantu baik terkait peluang usaha, permasalahan permodalan usaha, penyediaan jajanan dan makanan, pemilihan lokasi usaha yang strategis, maupun permasalahan tempat tinggal.

Jalinan solidaritas yang ada pada kelompok pedagang Warung Angkringan di Kota Ponorogo tidak hanya terjadi di antara ketua kelompok pedagang dengan anggota kelompoknya, tetapi juga terjadi di antara sesama anggota kelompok dan bahkan di antara kelompok pedagang Warung Angkringan yang satu dengan kelompok yang lainnya.
Jalinan solidaritas yang ada pada kelompok pedagang Warung Angkringan di Kota Ponorogo berbentuk solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Namun demikian, tingkat dominasi dari masing-masing solidaritas tersebut berbeda-beda. Solidaritas di antara ketua dengan anggota kelompok pedagang Warung Angkringan dan solidaritas di antara sesama anggota kelompok lebih didominasi oleh solidaritas organik. Solidaritas ketua kelompok dengan calon anggota kelompok baru dan solidaritas di antara kelompok pedagang Warung Angkringan yang satu dengan kelompok yang lain lebih mengarah pada solidaritas mekanik.

SARAN – SARAN :
Pihak Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Upaya pengembangan sektor usaha kecil dan menengah di Kabupaten Ponorogo tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kelompok usaha. Upaya mengembangkan modal sosial dan jalinan solidaritas dalam kelompok usaha perlu dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Pada saat modal sosial dan jalinan solidaritas telah berkembang dalam sebuah kelompok usaha, maka ketika pemerintah menggulirkan bantuan permodalan kepada kelompok tersebut peluang hilang atau tidak berkembangnya bantuan tersebut menjadi lebih kecil dibandingkan jika bantuan permodalan digulirkan pada kelompok usaha yang dibentuk secara dadakan (instan).
Masyarakat atau Pelaku Usaha Asli Ponorogo. Kemampuan kelompok pedagang pendatang dalam mengembangkan usahanya di Kota Ponorogo dan berkembangnya modal sosial serta jalinan solidaritas yang sangat erat dalam kelompok tersebut dapat digunakan sebagai bahan pelajaran yang sangat penting. Masyarakat atau pelaku usaha asli Ponorogo dalam menjalankan usahanya perlu membentuk usaha secara kelompok. Kelompok usaha menjadi sangat penting karena ketika mereka menghadapi permasalahan akan ada upaya saling membantu dan kemampuan mereka untuk bersaing dan bertahan di tengah persaingan usaha akan lebih besar jika dibandingkan dengan usaha yang hanya dilaksanakan secara terpisah atau sendiri-sendiri.
Peneliti Selanjutnya. Dalam melaksanakan penelitian tentang sektor informal atau pedagang kaki lima, salah satu hambatan dalam penggalian data di lapangan adalah ketika melakukan wawancara kepada responden penelitian. Alat perekam sering tidak dapat digunakan secara efektif karena lokasi usaha di sekitar kebisingan kendaraan bermotor dan responden sering mondar mandir melayani para pembelinya. Oleh sebab itu, daya ingat peneliti dan catatan harian menjadi yang utama dalam melakukan penggalian data. Selain dengan metode wawancara di lokasi usaha pada saat responden melakukan aktivitas usahanya, wawancara juga dapat dilakukan di tempat tinggal responden ketika mereka belum berjualan, tetapi hambatannya adalah dalam memilih waktu yang tepat karena mereka di rumah juga mempunyai berbagai kesibukan atau sedang istirahat. Oleh sebab itu, perlu upaya memilih metode wawancara yang tepat sehingga akan dapat diperoleh data atau informasi yang benar-benar dibutuhkan dan mendukung pelaksanaan penelitian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO