PELAKSANAAN FESTIVAL REYOG NASIONAL XVI TAHUN 2009

Responden yang dijadikan subyek penelitian Festival Reyog Nasional (FRN) XVI tahun 2009 ini sebanyak 37 group Reyog dari keseluruhan peserta berjumlah 51 group Reyog (73%) yang berasal dari berbagai daerah termasuk dari luar Jawa. Komposisi 37 group yang dijadikan responden tersebut adalah: 18 group dari wilayah Kabupaten Ponorogo dan 11 group berasal dari luar kota Ponorogo wilayah Jawa, dan 8 group dari luar Jawa, meliputi : 1) Propinsi Jawa Timur 6 group; Trenggalek, Nganjuk, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, dan Jember; 2) Propinsi Jawa Tengah 2 group; Wonogiri dan Semarang; 3) Jawa Barat 3 group; DKI Jakarta, Jakarta Timur, dan Banten ; dan 4) Luar Jawa 8 group; Kalimantan Timur (2 group), Kepulauan Riau, Batam, Lampung, Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan papua.

PAPARAN DATA
Hasil penggalian data tentang penyelenggaraan Festival Reyog Nasional (FRN) XVI tahun 2009 berikut pembahasan data secara rinci dapat dipaparkan sebagai berikut :
Profil Peserta FRN.
Data yang digali tentang profil group Reyog peserta FRN XVI tahun 2009, meliputi : komposisi anggota group, motif mengikuti FRN, persiapan group mengikuti FRN, dan biaya yang dialokasikan oleh masing-masing group/peserta FRN untuk persiapan mengikuti festival.
Komposisi Anggota Group Reyog. Terdapat perubahan menarik dari aspek komposisi anggota reyog jika dibandingkan dengan kondisi sebelumnya (ketika mengikuti FRN tahun yang lalu), dimana mayoritas group reyog peserta FRN masih mengandalkan anggota dari dalam (tidak mengambil dari sanggar tari tertentu). Group reyog yang anggotanya murni orang dalam ada 14 group (37,83%). Sementara group reyog yang mutlak mengambil personil reyog dari sanggar naik drastis menjadi 6 group reyog (16,22%), sama besar dengan group reyog yang sebagian besar anggotanya mengambil orang sanggar. Sementara group reyog yang anggotanya sebagian kecil dari sanggar sebanyak 10 group reyog (27,02%). Sedangkan yang tidak memberikan jawaban sebanyak 1 group (2,71%).

Motif Mengikuti Festival. Hampir seluruh group reyog menyatakan dengan tegas, bahwa keikutsertakan mereka di dalam FRN XVI ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, adalah dengan tujuan utama ikut melestarikan budaya lokal Kabupaten Ponorogo yang sarat dengan nilai dan makna filosofis tentang hidup dan kehidupan (89,18%), dimana posisi ini meningkat drastis dibanding dengan FRN tahun lalu (75%). Group reyog yang mengikuti FRN dengan tujuan utama mendapatkan juara turun menjadi 2 responden (5,41%); 2 responden (5,41%) ingin membangun citra positif Reyog Ponorogo. Sedangkan group reyog yang mengikuti FRN XVI dalam rangka mencari pengalaman tidak ada (0%).
Persiapan Mengikuti Festival. Selanjutnya dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti FRN XVI, mayoritas responden, yakni sejumlah 32 group (86,48%) telah memprogram program latihan itu dalam jadwal yang sistematis dan terorganisir. Namun juga ada beberapa group Reyog yang hanya mengandalkan latihan keras menjelang FRN diselenggarakan, yakni sebanyak 4 group (10,81%) dengan mengandalkan kemampuan atau keahlian secara turun-temurun, tanpa adanya pengembangan kreasi lebih jauh. Sementara ada juga sebagian group Reyog yang mensikapi hal sama, tetapi dengan upaya lebih strategis, yakni menyewa pelatih dari sanggar tertentu untuk mempercepat proses pematangan, yakni 1 responden (2,71%).
Biaya Persiapan Festival. Dana yang dihabiskan oleh masing-masing group reyog dalam rangka persiapan mengikuti FRN XVI, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ternyata cukup besar; ada 5 group reyog (13,52%) yang menghabiskan biaya di atas seratus juta, sama besar dengan group reyog yang menghabiskan dana untuk persiapan sebesar dibawah seratus juta; group reyog yang menghabiskan dana persiapan dibawah empat puluh juta sebanyak 9 group (24,32%); 17 group (45,94%) menghabiskan biaya di bawah lima belas juta; dan sebanyak 1 group reyog (2,70%) abstein.

Kreasi Seni Reyog.
Data tentang kreasi seni yang digali adalah terkait dengan kemungkinan pengembangan kreasi dari pakem seni Reyog yang ada dan juga kemungkinan perubahan kreasi seni reyog yang muncul secara mendadak ketika menjelang pentas.
Peserta FRN yang tetap menjadikan pakem Reyog Ponorogo sebagai sesuatu yang harus ditaati sebanyak 11 responden (29,73%); berpegang pakem tetapi tidak terikat sebanyak 9 responden (24,32%). Group reyog yang tidak terikat dengan pakem dan secara bebas berkreasi, sebagaimana tahun sebelumnya, cukup besar, yakni 15 group reyog (40,54%). Sementara ada 2 responden yang tidak memberikan jawabannya (5,41%).
Group reyog yang merubah kreasi tari secara mendadak menjelang pentas FRN XVI, ternyata cukup besar, yakni 10 group reyog (27,03%). Sebanyak 22 group reyog (59,46%) tidak merubah kreasi tari (cukup yakin dengan kreasi tarinya sendiri dan cukup mengandalkan persiapan yang telah dilakukan). Sementara sisanya sebanyak 5 responden (13,51%) tidak memberikan jawaban.

Pelayanan Panitia FRN.
Data yang digali terkait dengan pelayanan panitia FRN XVI tahun 2009, meliputi; penyampaian informasi tentang pelaksanaan FRN; penyambutan peserta; penyediaan tempat/transit pra-tampil; konsumsi; penginapan; dan tata panggung pentas FRN XVI, dimana semua jenis pelayanan tersebut diduga sangat berpengaruh terhadap pembangunan citra penyelenggaraan FRN XVI khususnya dan citra positif pemerintah Kabupaten Ponorogo pada umumnya.
Media Informasi Festival. Berdasarkan paparan data di atas, nampak jelas bahwa mayoritas peserta FRN XVI tahun 2009 sebanyak 34 group (91,89%) memperoleh informasi tentang penyelenggaraan FRN melalui surat undangan dari panitia. Group reyog yang memperoleh informasi FRN melalui media massa sudah tidak ada lagi satupun group reyog yang menyatakan (0%). Sebesar 1 group reyog (2,70%) menyatakan memperoleh informasi dari teman group reyog yang lain. Sementara sebanyak 2 group reyog (5,41%) tidak memberikan jawaban.
Penyambutan Peserta FRN. Penyambutan panitia terhadap para peserta FRN XVI secara umum cukup baik, terbukti sebagian besar group reyog, yakni sebanyak 28 group reyog (75,67%) menyatakan ramah dan menyenangkan. Hanya 2 group reyog (5,41%) menyatakan kurang ramah dan kurang menyenangkan; sebanyak 7 group reyog (18,92%) menyatakan biasa-biasa saja.
Transit yang Disediakan Panitia. Tanggapan peserta FRN XVI tahun 2009 terkait dengan tempat penyambutan atau transit yang disediakan oleh panitia menjelang pentas FRN XVI, cukup baik. Separuh lebih responden yang menyatakan sangat nyaman, yakni sebanyak 20 group reyog (54,05%). Namun demikian nampaknya juga cukup besar jumlah group yang menyatakan biasa-biasa saja, yakni sebesar 10 group reyog (27,03%). Sementara mereka yang menyatakan kurang nyaman sebanyak 4 group reyog (10,81%); menyatakan tidak nyaman sebanyak 1 group reyog (2,70%); dan sisanya sebanyak 2 group reyog (5,41%) tidak memberikan jawaban (abstein).
Konsumsi Peserta. Responden yang menyatakan enak dan pantas terkait dengan konsumsi yang disediakan oleh panitia seimbang jumlahnya dengan responden yang menyatakan biasa-biasa saja, yakni sebanyak 13 responden (39,39%). Sedangkan sisanya sebanyak 7 responden (21,22%) tidak memberikan jawaban.
Penginapan. Sekalipun panitia FRN XVI ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tidak menyiapkan penginapan khusus bagi para peserta FRN, paling tidak data ini bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha penginapan di kabupaten Ponorogo dalam merespon pernyataan responden tentang jasa penginapan yang selama ini mereka berikan. Kalau pada tahun lalu pelayanan di bidang penginapan ini sempat menurun, yakni dengan bukti adanya pernyataan group reyog pemanfaat jasa penginapan; FRN XV tahun 2008 menurun menjadi 42,43% dari tahun sebelumnya – FRN XIV tahun 2007 yang telah mencapai angka 47,62%, maka pada FRN XVI tahun 2009 ini bisa dikatakan cukup baik karena adanya peningkatan cukup signifikan, yakni sebesar 48,65% (posisi ini bahkan melebihi angka capaian pada FRN XIV tahun 2007). Sementara yang menyatakan kurang bersih dan nyaman sebanyak 1 group reyog (2,70%). Responden yang memberikan jawaban biasa-biasa saja sebanyak 4 group reyog (10,81%). Sementara responden yang tidak memberikan jawaban cukup besar (bahkan di atas angka hasil penelitian tahun 2008, yakni sebanya 13 responden (35,14%).
Tata Panggung. Dalam hal tata panggung, secara umum peserta FRN cukup puas terbukti dengan adanya jawaban dari mayoritas group reyog yang menyatakan tata panggung bagus dan layak untuk festival level nasional, yakni sebanyak 30 group reyog (81,09%). Sedangkan group reyog yang menyatakan kurang bagus dan belum layak untuk festival level nasional sebanyak 4 group reyog (10,81%). Hanya sebanyak 1 group reyog (2,70%) menyatakan kurang bagus dan kurang layak, sama besar jumlahnya dengan peserta yang menyatakan biasa-biasa saja dan peserta yang tidak menyatakan pendapatnya (abstein).

Tim Penilai dan Hasil Penilaian.
Data yang digali tentang penilaian FRN menyangkut tiga hal penting, yakni; penilaian Dewan Juri, dasar yang dijadikan penilaian, dan kualifikasi Dewan Juri.
Hasil Penilaian Dewan Juri. Responden yang menyatakan bahwa penilaian Dewan Juri adil sesuai dengan kualitas tampilan masing-masing group reyog sebanyak 24 group reyog (64,86%). Responden yang menyatakan bahwa di dalam penilaian FRN XVI ini terjadi kejanggalan/kurang adil sebanyak 2 group reyog (5,41%). Sedangkan tidak satupun responden yang menyatakan tidak adil. Sementara responden yang tidak memberikan jawabannya cukup besar, yakni 11 group reyog (29,73%).
Dasar yang dijadikan Penilaian Dewan Juri. Sebanyak 23 responden (62,16%) menyatakan penilaian dewan juri FRN XVI ini didasarkan pada buku pedoman secara mutlak. Sebanyak 5 responden (13,52%) menyatakan bahwa penilaian dewan juri didasarkan pada buku pedoman penilaian festival reyog tetapi bersifat kondisional atau tidak mutlak. Sementara responden yang menyatakan penilaian dewan juri tidak didasarkan pada pedoman penilaian festival reyog sebanyak 2 group reyog (5,41%). Sisanya menempati posisi sama besarnya dengan tahun sebelumnya (2008), yakni sejumlah 7 group reyog (18,91%).
Kualifikasi Dewan Juri. Pada FRN XVI ini, responden yang menyatakan bahwa kualifikasi dewan juri memenuhi kriteria (layak) sebanyak 27 group reyog (72,97%); sebanyak 3 group reyog (8,10%) menyatakan tidak layak; dan sebanyak 2 group reyog (5,41%) menyatakan kurang layak. Sedangkan sisanya, yakni sebanyak 5 group reyog (13,52%) tidak memberikan jawaban atau abstein.

Jadwal FRN.
Jadwal pentas yang digali dalam penelitian ini adalah menyangkut waktu pelaksanaan sekaligus waktu yang disediakan untuk pentas masing-masing group reyog di panggung pentas. Berkaitan dengan jadwal FRN, hampir seluruh responden menyatakan tidak ada masalah dengan jadwal yang telah disusun oleh panitia FRN, yakni sebanyak 28 group reyog (75,67%). Group reyog yang menyatakan perlu perubahan turun menjadi 5 group reyog atau 13,52% (tahun 2008 sebanyak 9 group reyog atau 27,27%). Sisanya sebanyak 4 group reyog (10,81%) tidak memberikan jawaban (posisi sama besar dengan hasil penelitian FRN XV tahun 2008).

Penghargaan.
Data yang digali terkait dengan penghargaan terutama terkait dengan uang pembinaan yang diterimakan kepada masing-masing pemenang. Selama ini jika mempertimbangkan nominal rupiah uang pembinaan dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan oleh masing-masing pemenang dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti FRN ini mungkin tidak akan pernah impas. Karena itu, dengan mendasarkan pada motivasi kuat para peserta untuk mengikuti FRN setiap tahun, maka diduga ada faktor lain (non-material) yang menjadi pemicu para group reyog senantiasa aktif menjadi peserta FRN, termasuk FRN XVI tahun 2009 ini.
Hampir separuh dari group reyog yang dijadikan responden di dalam penelitian ini, yakni sebanyak 18 group reyog (48,65%) menyatakan bahwa hadiah yang diberikan bagi para penyaji terbaik sudah pantas atau layak. Responden yang menyatakan kurang layak sebanyak 7 group reyog (18,92%). Group reyog yang menyatakan tidak layak sama sekali sebanyak 3 group reyog (8,10%). Sementara sebanyak 5 group reyog (13,52%) menyatakan biasa-biasa saja; dan sisanya sejumlah 4 group reyog (10,81%) tidak memberikan jawaban atau abstain.

Seremonial Pembukaan dan Penutupan.
Data yang digali terkait dengan seremonial pembukaan dan penutupan terutama terkait dengan kemeriahan dan kemenarikan, serta kekhidmatan acara ini, sehingga karenanya dimungkinkan menjadi pengikat kuat bagi masyarakat luas untuk selalu antusias menyaksikan acara seremonial FRN XVI tahun ini, dan otomatis akan berkonsekuensi ketertarikan masyarakat terhadap keseluruhan acara festival.
Upacara Pembukaan FRN. Dari sejumlah 37 responden yang dijadikan penelitian ini, mayoritas peserta FRN XVI tahun 2009 ini menyatakan bahwa seremonial pembukaan FRN XVI tahun 2009 meriah dan memukau. Group reyog yang meyatakan kurang meriah dan kurang memukau sebanyak 2 group reyog (5,41%); Tidak satupun Group reyog yang menyatakan kurang meriah dan bahkan tidak meriah. Group reyog yang menyatakan biasa-biasa saja sebanyak 5 group reyog (13,51%). Dan sisanya, yakni sejumlah 4 group reyog (10,81) tidak memberikan jawaban.
Upacara Penutupan FRN. Berkaitan dengan upacara penutupan FRN XVI tahun 2009 ini, hampir separuh group reyog, yakni 18 peserta (48,64%) menyatakan bahwa seremonial penutupan FRN sangat berkesan, sebanyak 2 goup reyog (5,41%) menyatakan kurang berkesan. Sementara group reyog yang menyatakan biasa-biasa saja sebanyak 4 group reyog (10,14%). Sedangkan group reyog yang tidak memberikan jawaban (abstein) cukup besar, yakni 13 group reyog (35,14%). Dimungkinkan responden yang menyatakan kurang tertarik atau terkesan dengan seremonial pembukaan dan penutupan ini, berkaitan dengan banyak faktor, baik faktor teknis maupun non-teknis. Faktor teknis, misalnya, terjadinya kemacetan dalam pesta kembang api, tata panggung yang kurang menarik, dan sebagainya. Sementara, faktor non-teknis, misalnya, terjadi turun hujan persis pada jadwal seremonial tersebut digelar.

Apresiasi Stand Souvenir Reyog (Khusus Peserta Luar Kota Ponorogo).
Data yang digali terkait dengan stand sovenir reyog meliputi; daya tarik stand dan souvevir reyog yang paling disukai oleh para peserta festival, hingga memutuskan untuk membelinya sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Responden yang dijadikan subyek penelitian adalah khusus group reyog dari luar kota Ponorogo, baik di wilayah Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Jumlah responden keseluruhan adalah 19 responden (group reyog).
Daya tarik stand souvenir reyog yang di gelar di sekitar panggung pentas FRN XVI tahun 2009 ini cukup bagus, dengan bukti jawaban responden yang menyatakan tertarik, sering berkunjung, dan bahkan membeli souvenir reyog sebagai kenang-kenangan atau oleh-oleh, yakni sebesar 13 group reyog (68,42%). Sementara ada 4 group reyog (21,05%) yang menyatakan stand souvenir reyog biasa-biasa saja. Sisanya sebanyak 2 group reyog (10,53%) tidak memberikan jawaban (abstein).
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, daya beli masyarakat terhadap souvenir reyog sangat baik, dimana dibuktikan dalam penelitian ini, bahwa hampir semua responden membeli souvenir reyog untuk berbagai kepentingan, terutama untuk kenang-kenangan; sebanyak 4 responden (21,05%) membeli miniatur dadak merak; sebanyak peminat pujangganong. Peminat kaos dan perangkat gamelan reyog berjumlah sama, yakni sebanyak 2 responden (10,53%). Sementara peminat properti tari sebanyak 3 responden (15,79%). Dan sisanya sebanyak 4 responden tidak memberikan jawaban atau abstein.

PEMBAHASAN
Berdasarkan paparan data berikut analisis data dan pembahasan, serta beberapa catatan saran atau usulan tertulis dari responden, ditemukan pokok-pokok persoalan terkait dengan penyelenggaraan Festival Reyog Nasional (FRN) XVI tahun 2009, sebagai berikut :
Desain Tata Panggung.
Mayoritas responden menyatakan bahwa tata panggung FRN XVI tahun 2009 layak dan pantas untuk pentas Reyog setingkat nasional. Hal ini bisa digarisbawahi sekaligus sebagai dasar untuk pengembangan penyelenggaran FRN di tahun-tahun berikutnya. Konteks waktu dan kondisi aktual yang mengiringi event FRN, nampaknya butuh pencermatan yang jeli, agar dinamika FRN, terutama dari aspek tata panggung ini bisa bertahan dalam posisi layak dan menarik.
Ada satu usulan dari satu group reyog tentang kemungkinan tempat (sasana) penonton dikasih terop (atap non permanen). Usulan ini memang terkesan mengada-ada (terutama apabila dikaitkan dengan anggaran yang diperlukan untuk menutup kursi penonton dengan atap non-permanen atau terop). Tetapi apabila mempertimbangkan kekhidmatan dan ketenangan penonton selama mengikuti keseluruhan pentas, maka usulan tersebut menjadi sebuah masukan yang layak dipertimbangkan, mengingat kenyataan selama ini, bahwa kondisi panas matahari dan terutama kondisi hujan jelas berdampak tidak nyaman bagi peminat dan penikmat pentas FRN, bahkan tidak jarang ketika hujan terlalu lebat, penonton terpaksa memilih bubar (pulang) alias tidak bisa melanjutkan keinginan untuk menikmati dan mencermati pentas FRN.

Pembatasan Peserta FRN dari Luar Kota Ponorogo.
Apabila pada tahun 2007 (penyelenggaraan FRN XIV) ada usulan agar peserta dari luar kota Ponorogo ditambah jumlahnya agar pentas FRN semakin meriah dan bisa lebih memungkinkan diikuti oleh seluruh penjuru Nusantara ini, maka justru ketika peserta benar-benar terjadi penambahan (FRN XV tahun 2008), ternyata persoalan yang muncul kemudian adalah masalah pengaturan jadwal pentas. Dengan peserta 50 group reyog dengan jumlah hari pelaksanaan yang sama, maka berkonsekuensi rumitnya mengatur jadwal pentas. Akibatnya waktu pentas masing-masing group harus berkurang dan otomatis berpengaruh terhadap kenyamanan pentas. Sedangkan di FRN XVI tahun 2009 ini, dengan peserta 51 group reyog dengan jadwal pelaksanaan yang juga masih menyisakan persoalan (rumitnya mengatur jadwal), ternyata masih juga ada usulan agar peserta dari luar kota Ponorogo, terutama dari luar pulau Jawa tetap ditambah.
Berdasar kenyataan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa keinginan para peserta untuk tetap komitmen membawa seni adiluhung ini menjadi seni yang ikut dimiliki (dicintai) oleh tidak saja masyarakat Ponorogo, tetapi masyarakat bangsa dan negara Indonesia cukuplah kuat. Dan lebih jauh kenyataan ini jelas menjadi suatu hal yang cukup membanggakan dan bisa dibanggakan. Karena itu, pekerjaan rumah bagi masyarakat Ponorogo melalui Pemerintah Daerah Ponorogo untuk tidak berhenti berpikir dan berproses agar keinginan tersebut bisa diwujudkan, sekalipun sifatnya secara bertahap (karena memang membutuhkan biaya yang semakin besar).

Penambahan Dan Pengaturan Hari Pentas.
Konsekuensi usulan point 4.2 di atas, mau tidak mau harus menambah hari pentas, manakala peserta FRN tahun yang akan datang berjumlah sama atau bahkan lebih besar. Keluhan sebagian peserta FRN XVI tahun 2009 ini bahwa durasi pentas terlalu pendek, sehingga tidak bisa dengan cukup leluasa mementaskan bagian per bagian pentas reyog secara khidmat. Di lapangan, penambahan dan pengaturan waktu (hari) pentas FRN memang tidak gambang. Banyak faktor dan persoalan kompleks yang mengiringinya (tenaga, dan terutama biaya).

Transparansi Penilaian dan Kemungkinan Kalangan Akademisi Menjadi Dewan Juri.
Sebagaimana FRN sebelumnya (FRN XV tahun 2008), hampir seluruh peserta FRN XVI tahun 2009 juga menyatakan bahwa kualisikasi dan penilaian dewan juri cukup fair dan obyektif. Namun demikian, tidak ada salahnya jika tetap memperhatikan kemungkinan upaya peningkatan aspek penilaian, dengan salah satunya memperhatikan usulan peserta FRN, terutama terkait dengan transparansi penilaian. Ada usulan menarik agar penilaian yang sudah berupa angka-angka bisa ditampilkan di layar monitar sesaat setelah group reyog usai menampilkan pentasnya. Satu sisi hal ini dimaksudkan agar peserta mengetahui secara langsung hasil/kualitas pentas yang sudah dilakukannya, pada sisi yang lain masing-masing peserta FRN bisa membandingkan secara langsung pentas yang dilakukan oleh masing-masing peserta.
Jikalau transparansi yang diusulkan di atas bisa dipenuhi, maka nilai keadilan dan kejujuran Dewan Juri akan bisa terpantau langsung oleh masyarakat. Namun demikian, usulan tersebut dimungkinkan juga sulit dipenuhi, mengingat ada hal-hal spesifik (yang tersebar di indikator berikut diskriptor penilaian) yang harus dikomunikasikan antar Dewan Juri agar tidak mengalami kesenjangan dan “kesalahpahaman”. Berpijak dari aspek ini, bisa jadi menjadi alternatif untuk memenuhi keinginan publik, yakni dengan menyampaikan indikator berikut diskriptor umum penilaian di awal acara FRN (selepas pembukaan).
Disamping hal tersebut di atas, usulan yang cukup menarik juga adalah bahwa ada group reyog yang menghendaki tim dewan juri diambil dari kalangan akademisi. Argumentasi usulan ini memang tidak dipaparkan oleh pengusul, hanya kemungkinan latar usulannya adalah; (1) agar tidak monoton dan terjadi perbedaan nuansa; (2) bisa lebih obyektif. Dugaan latar argumentasi ini dikaitkan dengan jawaban angket pada item-item sebelumnya yang lebih mengarah pada hal tersebut. Permasalahannya mungkin akan terbentur pada persoalan pemahaman dan penguasaan masalah seni dan budaya reyog Ponorogo yang masih sangat jarang kalangan akademisi yang menguasainya. Karena itu apabila usulan tersebut bisa disikapi oleh pihak penyelenggara FRN pada tahun-tahun yang akan datang, maka kalangan akademisi yang ditunjuk harus memenuhi kriteria kualifikasi dan kompetensi tersebut. Kemudian terkait dengan jumlah kalangan akademisi yang dilibatkan dalam jajaran dewan juri selayaknya tidak untuk menempati seluruh aspek penilaian yang ada, melainkan hanya sebagian saja, sehingga kemungkinan saling melengkapi antara dewan juri dari kalangan akademisi dengan dewan juri dari kalangan seniman dan budayawan akan menghasilkan penilaian yang lebih adil dan obyektif.

Penyediaan Fasilitas Penginapan Khusus.
Usulan ini sama dengan usulan FRN sebelumnya, dimana para peserta terutama dari luar kota Ponorogo menginginkan agar tempat transit lebih dekat dengan panggung pentas. Disamping untuk memberikan kemudahan kepada para peserta FRN dari luar kota, terutama untuk menghindari kemacetan saat menjelang pentas (disebabkan jalan utama belakang panggung padat oleh kendaraan pengunjung), kehadiran peserta FRN ke Ponorogo, dengan tujuan utama mengikuti festival, sebenarnya bisa diformat menjadi sebuah penciptaan hubungan yang lebih erat antar masing-masing peserta dengan misalnya menyiapkan penginapan terpadu. Di area penginapan ini lebih jauh bisa dipasarkan produk-produk asli daerah Ponorogo yang dimungkinkan bernilai kenangan bagi mereka, sehingga menimbulkan daya tarik untuk membeli produk-produk tersebut. Saran peserta terkait dengan penyediaan fasilitas penginapan barangkali bisa dikembangkan dengan pensikapan sebagaimana diterangkan. Bisa jadi, peserta yang memberikan masukan adanya penginapan gratis (misalnya dengan memanfaatkan ruang-ruang milik pemerintah Kabupaten Ponorogo, yang mungkin difungsikan sebagai penginapan darurat), akan memberikan jawaban yang menggembirakan bagi peserta dari luar Ponorogo, sekaligus akan menjadi daya pikat peserta lain dari luar Ponorogo untuk menjadi peserta baru bagi festival bergengsi ini.
Dengan demikian penyediakan penginapan ini akan melahirkan berbagai kemanfaatan; (1) bagi para peserta akan menguatkan tali silaturrahmi sehingga terjalin hubungan emosional yang erat; (2) bagi masyarakat Ponorogo pemilik produk yang dipasarkan (souvenir reyog Ponorogo berikut produk khas Ponorogo) akan meningkatkan taraf ekonomi mereka, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas; (3) bagi Pemerintah Kabupaten Ponorogo menjadi wahana untuk lebih bisa memperkenalkan kota Reyog ini sekaligus berbagai kekayaan dan kebanggaan Daerah dalam rangka menguatkan pesona wisata kota Reyog Ponorogo.

Pengaturan Stand Souvenir Reyog Ponorogo.
Besarnya animo peserta FRN XVI, terutama dari luar kota Ponorogo terhadap produk souvenir Reyog Ponorogo, sangat potensial menjadi pilar percepatan aktifitas perekonomian masyarakat Ponorogo, terutama para pengrajin souvenir berikut para pemilik stand souvenir dimaksud. Lebih jauh, sudah barang tentu akan berdampak pada peningkatan devisa Daerah Ponorogo.
Peluang inilah yang harus segera ditangkap oleh Pemkab Ponorogo, berangkat dari usulan para peserta FRN yang secara langsung merasakan kemanfaatan stand tersebut, dengan menata beberapa hal; (1) Stand yang sudah ada ditata lebih tertib dengan tampilan yang lebih menarik; (2) Lokasi stand diupayakan terpisah dari hiruk pikuk pasar malam, sehingga pengunjung lebih bisa menikmatinya dengan lebih tenang dan leluasa; (3) Berangkat dari usulan point 4.4. stand bisa didesain di lokasi penginapan khusus dengan asumsi bahwa penginapan khusus tersebut berada di areal yang memiliki ruang atau halaman yang representative; (4) kualitas dan variasi produk yang dipasarkan, terutama souvenir reyog perlu ditingkatkan.
Beberapa responden yang tidak memberikan tanggapan, bisa dimungkinkan melihat sisi lain dari souvenir reyog yang dijual, misalnya karena harga yang dipatok cukup mahal. Karena itu, standardisasi harga souvenir mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi para pemilik stand, agar daya jual di masa-masa berikutnya akan lebih besar.

Pembuatan Rambu-Rambu Kreasi Seni Reyog.
Sebagaimana seni budaya pada umumnya, seni Reyog Ponorogo pada akhirnya memang membutuhkan sentuhan-sentuhan pengembangan kreasi seni dalam rangka menguatkan aspek estetisnya. Berbagai masukan tentang pengembangan kreasi seni ini (bahkan telah banyak dipraktikkan oleh banyak group Reyog pada saat festival) memang sah-sah saja. Namun juga perlu diingat bahwa seni ini lahir, besar, dan berkembang di kota Ponorogo (dimana memiliki konteks budaya sendiri yang unik), sehingga apapun yang terkait dengannya, termasuk pengembangan kreasi seni tidak boleh lepas dari bayang-bayang karakter para tokoh yang ditampilkan di dalam seni Reyog.
Memegangi pakem secara tekstual memang akan mengakibatkan seni Reyog menjadi “statis” dan “monoton”, dimana dimungkinkan akan berpengaruh pada kurangnya apresiasi masyarakat terhadapnya, karena bagaimanapun mobilitas hidup masyarakat yang semakin meningkat hari demi hari juga akan berpengaruh terhadap cara mereka mengapresiasi sebuah seni budaya, termasuk Reyog itu sendiri. Karena itu, pensikapan para seniman Reyog (konco reyog) akan realitas atau konteks jaman yang melingkupi seni Reyog ini, senantiasa diperlukan dalam rangka kemungkinan pengembangan kreasi seni Reyog, sekaligus mengawal berbagai kreasi seni Reyog yang dipentaskan oleh konco reyog di luar Daerah Ponorogo, agar tidak “menyimpang” dari semangat wong Ponorogo yang memiliki ciri-ciri karakter berikut; berani (kendel), jujur, sakti, lantip, wicaksono, sumarah marang Gusti Kang Murbeng Jagad.
Karakter asli masyarakat Ponorogo dengan ciri-ciri memiliki kepribadian yang khas dan unik sebagaimana dipaparkan di atas, yang kemudian melahirkan istilah “Warok Ponorogo” inilah yang perlu dirumuskan oleh panitia sebagai dasar pengembangan kreasi seni Reyog Ponorogo, dimana harus dirujuk oleh seluruh peserta FRN dalam kemasan pentasnya.

Pembinaan Berkala.
Secara khusus beberapa group Reyog wakil dari beberapa Pembantu Bupati di wilayah Kabupaten Ponorogo, sebagaimana usulan tahun yang lalu, mengharapkan adanya pembinaan seni Reyog yang difasilitasi oleh pihak Pemerintah Daerah, secara intens dan serius, baik dari aspek pengembangan kreasi seni tarinya maupun dari aspek dana pemeliharaan perangkat Reyog, terutama dadak meraknya. Harapan ini muncul nampaknya dipicu oleh keinginan mempertahankan warisan adiluhung ini, dimana sentuhan-sentuhan kreasi yang memang dibutuhkan muncul dan dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi kesenian ini di tengah-tengah perhelatan seni modern, tidak salah arah (menyimpang dari karakter tokoh-tokoh yang dimunculkannya). Pembinaan berkala ini lebih jauh bisa dipakai sebagai wahana menyamakan visi-misi dan persepsi antar group Reyog yang ada di Kabupaten Ponorogo dalam hal seni reyog Ponorogo.
Beberapa keuntungan yang akan dipetik dari pembinaan berkala ini, diantaranya; (1) akan mempererat hubungan antara pemerintah lewat Yayasan Reyog dengan para konco reyog dan hubungan antar konco reyog itu sendiri; (2) sebagai wahana sosialisasi yang cukup strategis dan taktis tentang hal-hal yang terkait dengan Reyog; (3) sebagai wahana menjembatani berbagai kemungkinan beda pandang atau perspektif tentang pengembangan kreasi seni Reyog; dan (4) akan memperkuat rasa memiliki seni Reyog Ponorogo, sehingga kemungkinan pencaplokan seni adiluhung, seperti pernah terjadi beberapa waktu yang lalu, yakni ketika Reyog Ponorogo diklaim oleh Malaysia, bisa sedini mungkin diantisipasi langkah-langkah solusinya secara bersama-sama.

Parkir Khusus Peserta FRN.
Saran penyiapan tempat parkir khusus bagi peserta FRN XVI, nampaknya terkait dengan pelayanan panitia FRN khususnya dibidang penyambutan peserta. Sekalipun terlihat sederhana, penyiapan masalah ini akan berdampak sangat besar bagi pencitraan kesan baik para peserta FRN. Saran ini juga sangat erat terkait dengan misi besar yang diemban oleh seluruh peserta, yakni melestarikan budaya kebanggaan kota Reyog Ponorogo. Terlepas dari motif-motif di luar pelestarian budaya, yang jelas keikutsertaan para kontestan sangatlah berarti bagi survivalitas seni Reyog Ponorogo, di tengah-tengah seni budaya lain yang bermunculan. Parkir khusus dan gratis bisa jadi menjadi satu diantara cara memberikan penghargaan dan penghormatan kepada para pelestari budaya adiluhung ini.
Disamping persoalan parkir sebagaimana dipaparkan diatas, tempat parkir bagi peserta FRN juga harus dipilih di lokasi yang paling dekat dengan panggung pentas. Hal ini agar disamping berorientasi pada keamanan kendaraan peserta, juga agar memudahkan peserta memenuhi kebutuhan mereka yang terkait langsung dengan kendaraan/transportasi pentas.

Pelibatan Group Reyog dari Kabupaten Ponorogo Pada Acara Seremonial Pembukan FRN.
Jikalau pada tahun yang lalu (FRN XV) para peserta menghendaki agar agar pembukaan FRN dilakukan oleh Pejabat Negara; misalnya Presiden Republik Indonesia, atau paling tidak oleh Menteri Negara RI yang terkait atau setidaknya pejabat sekelas menteri, atau minimal oleh Gubernur Jawa Timur.
Usulan ini nampaknya memang cukup strategis mengingat FRN ini sudah dikenal oleh tidak saja tingkat nasional, tetapi juga internasional. Kehadiran pejabat negara, sudah barang tentu disamping akan menjadi kekuatan moral bagi pelestarian seni Reyog Ponorogo itu sendiri, pada sisi lain akan memberikan kemanfaatan yang cukup banyak bagi semangat kesatuan dan persatuan semua komponen masyarakat, terutama yang hadir dan secara aktif terlibat di dalam FRN, yang memang berasal dari seluruh penjuru negeri Nusantara ini.
Pada FRN XVI tahun 2009 ini ada usulan menarik dari group reyog peserta FRN asal Ponorogo agar group-group Reyog Ponorogo dilibatkan secara aktif di dalam acara seremonial pembukaan maupun penutupan FRN. Alasannya, agar disamping group-group Reyog asli Ponorogo tersebut memperoleh peluang untuk bisa menampilkan seni Reyog Ponorogo dengan karakter asli Ponorogo di hadapan seluruh peserta FRN maupun publik, juga agar group-group asli lokal tersebut ikut memiliki event bergengsi ini.

SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Secara umum penyelenggaraan FRN XVI tahun 2009 berjalan dengan baik, tertib, dan lancar, baik terkait dengan persiapan, proses pelaksanaan, maupun hasil akhir FRN. Beberapa kekurangan/kendala menyebar di beberapa aspek teknis, meliputi; sasana penonton sering terkendala oleh cuaca (panas dan hujan), belum adanya pedoman penilaian yang representatif berdasar pesan-pesan substantif seni Reyog Ponorogo sesuai karakter masyarakat Ponorogo, keterbatasan tempat transit peserta (terutama penyediaan kursi berikut penyambutan peserta FRN), serta keterbatasan pengaturan lalu lintas kendaraan dan pengunjung yang sering berjubel di jalan raya belakang panggung pentas, dimana karena jalan tersebut merupakan jalur utama peserta menuju panggung pentas, maka berakibat ketidaklancaran dan ketidaknyamanan peserta.
Terlepas dari kekurangan yang ada itu, penyelenggaraan FRN XVI tahun 2009 ini mengindikasikan masih kuatnya apresiasi masyarakat terhadap FRN, baik dari aspek peserta maupun masyarakat penonton. Peningkatan jumlah peserta yang begitu drastis, yakni 51 peserta berikut penolakan panitia terhadap peserta yang mendaftar di atas angka 51, menjadi bukti yang cukup kuat bahwa dari waktu ke waktu seni Reyog Ponorogo semakin diapresiasi oleh berbagai pihak dalam skala lokal maupun nasional. Karena itu ada dua persoalan penting yang perlu menjadi catatan penyelenggara FRN ke depan : 1) Peningkatan kualitas penyelengaraan berikut pengembangan FRN; 2) Kemungkinan pengembangan sekaligus penguatan pesona wisata melalui event FRN ini menjadi sangat strategis.
Stand souvenir produk asli Daerah Ponorogo, terutama terkait dengan souvenir Reyog Ponorogo perlu pengkajian secara intensif dan terjadwal, mengingat animo masyarakat berkunjung sekaligus membeli produk dimaksud (terutama para pengunjung dari luar kota Ponorogo dan peserta luar Jawa) yang begitu tinggi. Penyediaan stand khusus yang terpisah dengan areal pasar malam adalah salah satu jawaban untuk meningkatkan kualitas, disamping peningkatan mutu produk yang dipasarkan.
Beberapa kekurangan yang ada dan terjadi dalam event FRN XVI tahun 2009 sangatlah wajar, jika mempertimbangkan lingkup festival setingkat nasional. Berdasarkan keunggulan yang ditemui berikut kekurangan yang ada, juga didorong oleh semangat memajukan kota Reyog ini semakin menemui keunggulan di masa depan, maka melalui hasil penelitian ini direkomendasikan hal-hal berikut: a) Kepada Pemerintah Daerah Ponorogo agar terus mengkaji dan mengevaluasi pelaksanaan FRN ini secara terus-menerus (dari tahun ke tahun), agar kekurangan-kekurangan yang ada bisa segera diperbaiki, sementara aspek-aspek yang sudah baik dan unggul, bisa dilakukan peningkatan yang lebih signifikan dan bermakna; b) Kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo agar disamping juga melakukan monitoring dan evaluasi secara terus-menerus sebagaimana dipaparkan di atas (melalui sharing dengan berbagai pihak; Pemerintah Daerah, Kalangan Akademisi, Seniman-Budayawan Ponorogo, group-group Reyog di wilayah Kabupaten Ponorogo, tokoh masyarakat, dan seterusnya). Hasil monev akan menjadi pijakan yang lebih kuat untuk penyelenggaraan FRN di tahun-tahun berikutnya; dan c) Kepada Para Pemilik Stand Souvenir Reyog Ponorogo agar bersama-sama dengan Pemerintah Daerah menata ulang stand yang selama ini dibuka, baik menyangkut peningkatan kualitas produk maupun peningkatan kualitas dan kuantitas stand, agar aktifitas ekonomis yang selama ini mereka lakukan akan melahirkan kemanfaatan yang semakin baik, mampu menyumbang devisa daerah, dan yang lebih penting mampu meningkatkan taraf hidup para pemilik stand.

Penelitian ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo c/q Panitia Grebeg Suro Tahun 2009 dengan FISIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO