ETOS KERJA PENGUSAHA MUSLIM PERKOTAAN DI KOTA PONOROGO

Abstract : This research aims to know the spirit of Urban Moslem Enterpreuner in Ponorogo. Based on the research focused, most data and resources in urban area the Moslem business locates in the three village areas, namely Mangkujayan, Banyudono, and Bangunsari. The research subject is the native Moslem whose business is on the three areas. The data collection technique is indepth interview and data analized is used interactive analysis model. The result of the research shown that spirit of the native Moslem is high. Their spirit is not only encouraged by economic motives, to fulfill only the economic necessary, but they encouraged by religious and social motive. The hight spirit of native Moslem businessmen in doing the business is the main capital for developing their business, beside their enough skill and experience.

Kata Kunci : Etos Kerja, Pengusaha Muslim Perkotaan

PENDAHULUAN
Kemampuan pengusaha lokal dalam mengelola usaha perekonomian dan mampu bersaing diantara dominasi etnik Cina tidak banyak dijumpai di Indonesia. Kota Ponorogo merupakan salah satu kota yang menunjukkan gejala tersebut. Pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo termasuk salah satu dari golongan yang mampu bertahan menghadapi dominasi etnik Cina dan mereka bahkan berhasil mendominasi beberapa jenis usaha.

Hasil penelitian dari Harsono dan Santoso (2005) menunjukkan bahwa pada kurun waktu antara tahun 1950 sampai dengan akhir tahun 1960, kota Ponorogo dikenal sebagai jalur perdagangan batik (sejajar dengan kota Surakarta, Yogyakarta dan Pekalongan) dan ketika batik menjadi primadona perekonomian lokal maka pengusaha muslim perkotaan sebagai pemegang kendali perekonomian lokal. Tetapi ketika batik mengalami kemerosotan pada awal tahun 1970, maka berdampak pada menurunnya dominasi pengusaha muslim perkotaan dalam perekonomian di kota Ponorogo. Regenerasi perekonomian di kalangan pengusaha muslim perkotaan di Ponorogo berjalan sangat lambat. Setelah mengalami kemerosotan kurang lebih selama 10 tahun, pengusaha muslim perkotaan mulai bangkit lagi pada akhir tahun 1980. Kebangkitan pengusaha muslim tersebut sebagian berasal dari keluarga pengusaha batik, yang pada masa itu termasuk kelas menengah, dan sebagian lagi merupakan pengusaha muslim baru yang memulai usahanya dari bawah. Para pengusaha muslim generasi baru, yang berlatar belakang dari keluarga pengusaha batik, tidak lagi meneruskan usaha batik melainkan mengembangkan jenis usaha lain baik usaha pertokoan maupun usaha jasa. Sedangkan untuk pengusaha muslim baru yang memulai usaha dari bawah adalah mereka yang sebelumnya hanya sebagai karyawan pada usaha tertentu, karena kegigihannya maka mereka mampu membuka usaha secara mandiri dan bahkan usahanya sekarang lebih sukses dibandingkan dengan usaha tempat kerjanya dahulu.
Fenomena tersebut di atas sesuai dengan pendapat Kuntowijoyo (1985: 17), bahwa perkembangan usaha perekonomian di kota Ponorogo ini perlu diikuti dengan cermat karena Ponorogo dengan pengusaha muslimnya pernah mewarnai perekonomian nasional, khususnya pulau Jawa. Ponorogo adalah salah satu dari sedikit kota yang para pengusaha muslim pribuminya bangkit kembali dan mulai berkembang.
Masyarakat ilmiah mempunyai pendapat dan batasan yang berbeda-beda tentang etos kerja. Namun demikian secara substansial mereka mempunyai pengertian yang sama tentang etos kerja. Secara umum mereka membangun pengertian bahwa yang dimaksud dengan etos kerja adalah semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu. Sukriyanto (2000: 92), melalui tesisnya memberikan pengertian bahwa etos kerja adalah suatu semangat kerja yang dimiliki oleh masyarakat untuk mampu bekerja lebih baik guna memperoleh nilai hidup mereka. Karena etos kerja menentukan penilaian manusia yang diwujudkan dalam suatu pekerjaan, maka ia akan pula menentukan hasil-hasilnya. Dengan adanya keterkaitan yang erat antara etos kerja dengan survivalitas (daya tahan hidup) manusia di bidang ekonomi, maka dengan semakin progresif etos kerja suatu masyarakat juga akan semakin baik hasil-hasil yang dicapai baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Nilai-nilai agama dan kultural dapat memberikan dorongan pada seseorang atau kelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu, terutama dalam bidang ekonomi (Weber, 2000: 161). Faktor-faktor yang dipertegas oleh Weber adalah memajukan keberlakuan faktor irrasional dalam tindakan yang tampak dibimbing oleh rasionalitas yang keras, seperti pada tindakan pemenuhan kebutuhan ekonomi atau bahkan juga akhirnya akan mengarah pada bagaimana dapat meningkatkan kualitas hidup manusia atau dengan kata lain digiring ke arah sosio-ekonomi yang ditujukan oleh pengaruh doktrin agama. Motif religi yang mendorong keberhasilan hidup seseorang tersebut dapat dijumpai pada masyarakat Islam di Indonesia. Yang telah mendorong tumbuhnya pengusaha-pengusaha Islam di Indonesia terdapat persamaan yang besar sekali antara etos kerja Protestan dengan etos kerja kaum Santri Pedagang. Terminologi etos kerja kaum Santri Pedagang tersebut menggambarkan keberhasilan para pengusaha muslim dalam mengembangkan usahanya di beberapa kota di Jawa pada tahun 1950-an, seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Tegal, Ponorogo dan kota lainnya. Hal tersebut didukung oleh Usman (1998: 99), yang menyatakan bahwa sejarah kehidupan masyarakat Indonesia memperlihatkan adanya keterkaitan yang signifikan antara kedalaman penghayatan agama dan kegairahan dalam kehidupan ekonomi. Kelompok-kelompok tertentu yang tergolong menjalankan syariat agama dengan lebih bersungguh-sungguh, dalam kehidupan sosial dan pribadinya, kelihatan lebih mampu beradaptasi dalam kehidupan ekonomi.
Keterkaitan yang kuat antara agama Islam dengan aktifitas ekonomi umat, menurut Ismail (1997: 22) adalah bahwa kegiatan ekonomi dalam Islam, meskipun konkritnya adalah kegiatan yang bersifat untuk mendapatkan kecukupan materi, tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sesudah mati dan akan tetap dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Islam tidak mengajarkan satu sistem ekonomi yang komprehensif, tetapi Islam mengajarkan landasan etika dan moral bagi para pemeluknya yang akan melakukan kegiatan ekonomi. Islam pada prinsipnya mengajarkan kebaikan dan telah mengatur kehidupan umatnya di dunia dan di akherat. Dalam prinsip etika ekonomi pada hakekatnya adalah menjalankan bisnis yang jujur sesuai dengan aqidah agama (Fadhely, 1995: 14). Hal tersebut didukung oleh pendapat Burhan (1997: 17), bahwa doktrin dalam Islam terkait erat dengan tujuan hidup manusia yang hakiki. Oleh karena itu, membicarakan tujuan manusia, dilihat dari kaca mata ekonomi, tidak dapat lepas dari tujuan hidup. Kegiatan ekonomi manusia menyatu dengan status manusia sebagai khalifah dan fungsi manusia untuk ibadah. Sebagai khalifah maka kegiatan ekonomi manusia harus dalam rangka memakmurkan seluruh penghuni bumi seraya menjaga kelestariannya, sedangkan dalam ibadah maka kegiatan tersebut hendaknya ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.
Terkait dengan semangat kewirausahaan di kalangan muslim, menurut pendapat Jaeroni Setyadhi (2005), bahwa semangat kewirausahaan dalam kalangan muslim juga terlihat dari pepatah bahasa Arab “Inna al-samaa la tumtiru dhahaban wa la fidhatan” di mana diartikan ”Langit tidak menurunkan hujan emas dan perak, tetapi perlu dengan semangat kerja yang tidak mengenal lelah”. Atau kata bijak yang bisa diimplementasikan ke kehidupan yang nyata “Isy ka annaka ta'isyu abada” atau “I'mal lid dunyyaka kaannaka ta'isyu abada”. Di mana terminalogi “bekerjalah bagi duniamu seakan-akan kamu hidup abadi” yang menunjukkan kepada semua orang bahwa etos kerja orang muslim sangat bisa untuk diandalkan. Hubungan sosiologi dari semangat etos kerja akan terlihat dari penghasilan, keuntungan dan akumulasi kapital. Di mana manusia merupakan khalifah di muka bumi yang mempergunakan semua sumber daya yang ada di sekitarnya untuk memenuhi keinginan yang relatif tidak terbatas dalam semangat kewirausahaan.
Berdasarkan dengan uraian tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana etos kerja pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo sehingga mereka mampu bertahan dalam menghadapi persaingan usaha di kota Ponorogo.

METODE PENELITIAN
Sebagian besar usaha perdagangan dari pengusaha muslim perkotaan berada di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Mangkujayan, Banyudono dan Bangunsari. Dengan demikian lokasi penelitian difokuskan pada tiga kelurahan tersebut. Terkait dengan hal tersebut maka yang menjadi subyek penelitian adalah para pengusaha muslim pribumi yang lokasi usahanya berada di tiga wilayah kelurahan tersebut. Subyek penelitian ini perlu dipertegas mengingat di kota Ponorogo juga terdapat pengusaha muslim dari etnik Cina.
Dalam penelitian ini pengusaha muslim yang menjadi informan kunci sebanyak 6 (enam) orang, yaitu Muhammad Nasrulsyah, Wayan Suyanto, Soedibyo, Handoko, Imam Sukanda dan Nur Jaelani. Alasan yang cukup kuat untuk memilih para informan tersebut adalah Muhammad Nasrulsyah dianggap mewakili pengusaha muslim yang bergerak di bidang peternakan, Wayan Suyanto dianggap mewakili pengusaha muslim yang bergerak di bidang meubel, Soedibyo dianggap mewakili pengusaha muslim yang bergerak di toko pakaian jadi, Handoko dianggap mewakili pengusaha muslim yang bergerak di bidang jasa, Imam Sukanda dianggap mewakili pengusaha muslim bergerak di bidang usaha mini market, dan Nur Jaelani dianggap mewakili pengusaha muslim yang bergerak di bidang industri.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik Indepth Interview atau wawancara mendalam. Teknik wawancara ini tidak dilakukan secara ketat terstruktur, tertutup dan formal, tetapi lebih menekankan pada suasana akrab dengan mengajukan pertanyaan terbuka, lentur dan bersifat jujur dalam menyampaikan informasi sebenarnya. Beberapa materi pertanyaan yang diajukan antara lain : a) Perjalanan dan perkembangan usaha; b) Pandangan terhadap ibadah haji dan zakat; c) Pandangan terhadap modal usaha dari bank; d) Kegiatan organisasi yang dijalani; e) Pandangan terhadap jaringan pengusaha muslim; dan f) Strategi mengembangkan usaha.
Berdasarkan pola azas penelitian kualitatif, maka aktifitas analisis data dilakukan di lapangan dan bahkan bersamaan dengan proses pengumpulan data dalam wawancara. Reduksi data dan sajian data merupakan dua komponen dalam analisis data. Penarikan kesimpulan dilakukan jika pengumpulan data dianggap cukup memadai dan selesai. Jika terjadi kesimpulan yang dianggap kurang memadai maka diperlukan aktifitas verifikasi dengan sasaran yang lebih terfokus. Ketiga komponen aktifitas tersebut saling berinteraksi sampai diperoleh kesimpulan yang mantap. Proses analisis data tersebut dinamakan Model Interaktif Analisis Data (Sutopo, 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengusaha muslim perkotaan pada umumnya dalam menjalankan usahanya terkonsentrasi di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Mangkujayan, Banyudono dan Bangunsari, yang semuanya terletak di wilayah Kecamatan Kota Ponorogo dan secara geografis berada di pusat Kota Ponorogo. Pengusaha muslim yang bergerak pada usaha toko meubel, sebagian besar beroperasi di Kelurahan Mangkujayan, khususnya Jalan Urip Sumoharjo, meskipun di lokasi tersebut juga terdapat beberapa pengusaha toko meubel dari etnik Cina. Pengusaha muslim yang bergerak pada usaha toko pakaian jadi, sebagian besar terkonsentrasi di Kelurahan Banyudono dan Bangunsari, terutama di Jalan Jaksa Agung, Jalan Bayangkara, Jalan Sukarno-Hatta dan Pasar Legi Selatan (Pasar Lanang). Sedangkan untuk jenis usaha yang lain, seperti apotik, hotel, kounter hand phone, rumah makan dan toko swalayan, wilayah penyebarannya lebih merata di banyak kelurahan di pusat kota.
Pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo menjadi pengusaha sukses tidak berangkat dengan modal usaha yang besar tetapi mereka berangkat dengan modal semangat dan ketrampilan. Yang tidak kalah menarik dari etos kerja pengusaha muslim perkotaan adalah bahwa tingginya etos kerja mereka tidak hanya didorong oleh motif-motif ekonomi semata tetapi juga didorong oleh motif religi dan sosial.
Disamping menunaikan ibadah haji, para pengusaha muslim perkotaan secara rutin membayar zakat, baik zakat fitrah pada Hari Raya Idul Fitri maupun zakat maal. Namun mereka mempunyai cara yang berbeda-beda dalam membayar zakat, yaitu ada yang menyerahkan zakatnya langsung kepada panitia zakat, ada yang lebih suka membayarkan sendiri zakatnya pada yang berhak dan ada menyerahkan zakatnya pada sebuah panti asuhan anak yatim. Para pengusaha muslim perkotaan sangat percaya bahwa puluhan juta rupiah yang dikeluarkan dalam dua bentuk kegiatan tersebut (ibadah haji dan membayar zakat) akan diganti oleh Allah SWT dengan kemudahan rezeki melalui kemajuan usaha mereka.
Beberapa penuturan informan terkait ibadah haji antara lain : a) Soedibyo : ”Saya sudah dua kali, pertama tahun 1990 dan yang kedua tahun 2000. Karena menunaikan ibadah haji adalah kewajiban bagi yang mampu”, b) Wayan Suyanto : ”Jangankan jutaan rupiah, nyawapun ya harus direlakan kalau memang itu suatu kewajiban”, c) Imam Sukanda : ”Sudah, dua kali tahun 1988 dan 1998. Bagi seorang muslim pergi haji sudah kewajiban. Pada saat keberangkatan saya yang pertama saja saya sudah sangat takut, karena saya sudah mampu tetapi tidak berangkat”, dan d) Nur Jaelani : ”Seratus jutapun tidak ada masalah kalau memang dananya ada. Karena sebenarnya kita itu tidak punya apa-apa. Semua rejeki yang kita miliki ini kan dari Sang Cholik. Kita sudah menerima banyak kemudahan”.
Sedangkan terkait dengan pembayaran zakat, beberapa penuturan informan antara lain : a) Wayan Suyanto : ”Insya Allah sesuai dengan nisab dan kami salurkan sendiri pada yang berhak”, b) Muhammad Nasrulsyah : ”Saya selalu menyalurkan zakat ke salah satu Panti Asuhan. Bagi saya zakat itu sangat penting. Saya selalu menyarankan pada relasi saya untuk menzakati usahanya bila ingin berhasil”, c) Imam Sukanda : ”Membayar zakat adalah wajib hukumnya. Tidak ada ceritanya orang jatuh miskin karena membayar zakat. Sebaliknya Allah akan memberikan kamudahan”, d) Nur Jaelani : ”Wah kalau itu sudah merupakan kewajiban. Kalau tidak dizakati berarti saya ini kufur”, dan e) Handoko: ”Ya, kami selalu membayar zakat yang pengelolaannya kami serahkan pada panitia zakat”.
Menurut pendapat para pengusaha muslim perkotaan, menunaikan ibadah haji adalah dalam rangka memenuhi motivasi religi, sedangkan membayar zakat disamping untuk memenuhi motif religi, juga dimaksudkan untuk memenuhi motif sosial. Zakat yang mereka keluarkan tidak hanya untuk membantu masjid saja tetapi juga untuk kegiatan sosial, yaitu memberikan shodaqoh untuk panti asuhan dan menyalurkan beras untuk kaum miskin. Fenomena tersebut oleh Fadhely (1995) dinamakan sebagai aktifitas ekonomi dalam bentuk kolektif, yang sesungguhnya merupakan proses sosialisasi hasil-hasil ekonomi yang dicapai oleh masing-masing orang tersebut.
Disatu sisi pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo sudah menunjukkan profesionalisme yang memadai baik dalam menyediakan kebutuhan konsumen, pelayanan sampai pada penataan barang, tetapi disisi lain mereka masih lemah dalam hal kerjasama sesama para pengusaha. Hal tersebut terbukti bahwa diantara para pengusaha muslim tersebut belum ada forum yang bisa dijadikan sebagai media komunikasi, meskipun banyak diantara mereka sangat menginginkan terbentuknya forum tersebut. Seperti yang dituturkan oleh Soedibyo, ”Belum. Tetapi sebetulnya memang perlu di bentuk. Hal ini perlu karena pertama, untuk bidang usaha dan kedua, adalah untuk memelihara akidah kita”. Sedangkan penuturan Handoko, ”Sebenarnya sudah pernah tetapi gagal karena ada sekat-sekat organisasi”.
Terkait dengan promosi usaha melalui dunia periklanan, kebanyakan pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo belum banyak memanfaatkannya, namun demikian bukan berarti mereka menjadi pasif terhadap promosi atas kegiatan usahanya. Kerelasian dengan berbagai pihak selalu mereka kembangkan memalui organisasi-organisasi sosial yang mereka ikuti. Dalam mengembangkan kiat untuk menjaga kerelasian dengan mitra maupun konsumen, mereka selalu berusaha untuk tidak membuat kecewa apalagi marah. Beberapa penuturan informan terkait hal tersebut antara lain : a) Wayan Suyanto : ”Banyak teman-teman di FSUI (Forum Sillaturrohmi Umat Islam) dan KAHMI merupakan pelanggan kami”, b) Soedibyo : ”Banyak konsumen yang membeli busana muslim di tempat kami walaupun di toko Cina ada yang menjual busana muslim, dengan alasan yang sederhana, kalau semua sama lebih baik saya beli disini saja”, c) Muhammad Nasrulsyah : ”Kami juga melayani konsultasi gratis bahkan bila perlu lewat telpon. Selain merupakan pengabdian dari ilmu saya, hal ini saya anggap sebagai ibadah. Selain itu saya juga berusaha untuk tidak memberikan uang pengembalian dalam bentuk logam untuk nominal Rp. 500,- dan Rp. 1.000,- karena gambang hilang dan itu bisa sangat mengecewakan”, dan d) Nur Jaelani : ”Rencana memang akan kita adakan sales ke instansi-instansi, tetapi sekarang belum”.
Sedangkan terhadap dunia perbankan para pengusaha muslim perkotaan tersebut mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Sebagian dari mereka ada yang sejak awal usahanya sudah berhubungan dengan dunia perbankan, karena dalam mengawali bisnisnya mereka memperoleh pinjaman modal dari sebuah bank. Sementara pengusaha muslim perkotaan yang lain dalam usaha mengembangkan bisnisnya tidak pernah berusaha memperoleh kredit dari perbankan. Mereka beranggapan bahwa bersentuhan dengan dunia perbankan adalah dilarang oleh agama, karena mengandung unsur riba. Sehingga dalam mengembangkan modal usahanya lebih banyak mengandalkan pada keuntungan yang mereka kumpulkan secara perlahan-lahan.
Beberapa penuturan informan terkait hubungan dengan dunia perbankan antara lain : a) Wayan Suyanto : ”Selama ini saya tidak berhubungan dengan dunia perbankan. Modal kami himpun sedikit demi sedikit dari keuntungan yang kami peroleh. Terus terang kami masih sangsi dengan hukum bunga perbankan”, b) Imam Sukanda : ”Alhamdulillah tidak, karena dua alasan. Pertama, saya butuh ketenangan. Kedua, saya tidak ingin memaksakan diri. Dalam hal penyimpanan uang saya memang menggunakan jasa perbankan”, dan c) Handoko : ”Ya, sejak semula kami sudah berhubungan dengan perbankan untuk mengembangkan usaha”.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat digambarkan pola umum yang mendorong berkembangnya usaha para pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo, yaitu sebagai berikut :

Etos kerja yang tinggi dikalangan pengusaha muslim perkotaan tersebut di atas, telah mampu mendorong perkembangan usaha mereka sekalipun dalam kadar yang berbeda-beda. Adapun beberapa perkembangan usaha para pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo dapat digambarkan pada tabel di bawah ini :


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa a) Para pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo mempunyai etos kerja yang tinggi. Semangat kerja mereka tidak hanya didorong oleh motif-motif ekonomi, yaitu supaya bisa memenuhi kebutuhan ekonomi semata, tetapi juga didorong oleh motif religi dan motif sosial. Tingginya etos kerja para pengusaha muslim perkotaan dalam menjalankan usahanya adalah modal utama dalam mengembangkan usaha mereka, disamping mereka punya pengalaman dan ketrampilan yang cukup; b) Etos kerja yang tinggi yang dimiliki oleh para pengusaha muslim perkotaan tersebut masih belum didukung sikap profesional layaknya para pelaku bisnis yang berhasil. Hal ini terbukti dengan tidak adanyan jaringan kerja diantara para pengusaha, bahkan mereka sangat mengandalkan pada ikatan emosi masyarakat sesama muslim; dan c) Dari temuan di lapangan diperoleh informasi bahwa para pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo telah mengalami kemajuan usaha, baik di bidang perdagangan, jasa maupun industri dan hal ini merupakan indikasi penting adanya kemampuan yang baik dari para pengusaha tersebut dalam mengelola dan mengembangkan usaha mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Burhan, Umar. 1997. Memberdayakan Ekonomi Umat : Suatu Kajian Konsepsional dalam Beberapa Bukti Empiris. Jurnal Lintasan Ekonomi, Malang: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.
Fadhely, Mohamad. 1995. Meneropong Kehidupan Ekonomi Umat Islam, Peradapan Islam, Kapitalis Budaya Cina di Indonesia. Jakarta: Penerbit Golden Press.
Harsono, Jusuf dan Slamet Santoso. 2005. Solidaritas Mekanik Masyarakat dan Survivalitas Pengusaha Muslim Perkotaan di Ponorogo. Laporan Penelitian Dosen Muda, Nopember 2005, Universitas Muhammaidyah Ponorogo.
Ismail, Munawar. 1997. Islam Kapitalisme dan Sosialisme. Studi Komperatif Sistem Ekonomi. Lintasan Ekonomi, Edisi khusus Januari-April, Malang: Lembaga Penerbit FE Unibraw.
Jaeroni Setyadhi. 2005. Kewirausahaan Islam dan Bayang-bayang Orientalis Barat. IHB Jakarta. Tanggal 20 September 2005. http//www.fajar.co.id.
Kuntowijoyo. 1985. Muslim Kerja Menengah Indonesia dalam Mencari Identitas. Majalah Prisma, Penerbit LP3ES.
Sukiyanto. 2000. Etos Kerja Salah Satu Faktor Survivalitas Peternak Sapi Perah, Studi Kasus Di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu Kota Batu Kabupaten Malang, Thesis, Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Sutopo. 2002. Penelitian Kualitatif. Surakarta : Sebelas Maret University Press.
Usman, Sunyoto. 1998. Perkembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Weber, Max. 2000. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Penerbit Pustaka Promethea.

(Artikel ini ditulis oleh Jusuf Harsono dan Slamet Santoso, dan telah dimuat dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Edisi Khusus Juni 2006, Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta)


2 komentar:

  1. artikel bermanfaat. keep berbagi...salam smangat dari PMRELOAD

    BalasHapus
  2. Hati-hati dengan orang ini (Zulkhaery Basrul). Sudah banyak orang ditipu.
    Silahkan cek http://suarapojokbuku.blogspot.com .
    Semua testimoni bisa dicek.

    “Saya juga termasuk korban saudara yang terhormat Zulkhaery. ”

    Untuk diketahui, saya posisi di Pekanbaru, dia di Jakarta. Beberapa pekerjaan yang saya berikan tidak rampung dikerjakan, akhirnya saya yang diuber-uber konsumen di Pekanbaru.

    Kalau dia di Pekanbaru, sudah pasti saya Polisi-kan. Karena dia di Jakarta makanya males saya ngurusin. Tapi sakit hati ini bener2 kesumat. Demi Allah, serupiah pun saya tidak memakan hak dia, bahkan beberapa kesempatan hak dia saya dahulukan karena dia yang mengerjakan website.

    Kenyataannya, setelah uang ditransfer, bahkan konsumen sampai bayar beberapa kali, berbulan-bulan website tidak bisa dikerjakan dan mulai susah dihubungi. Setelah menunggu sekian bulan (kurang lebih 6 bulan), baru dia ngabari kalau uang konsumen pulangkan saja. Sedangkan jatah dia dan jatah saya sudah dibagi habis, tentu uang yang sudah berbulan-bulan itu telah habis pula, dengan seenaknya dia membatalkan sepihak dengan pembuat website.

    Terakhir karena jauh, saya sampai bersumpah kepada dia tentang akibat dari perbuatan dia (Zulkhaery Basrul), tentu dia saya kira masih ingat apa sumpah saya itu, dan sekarang insyallah Tuhan tunjukkan keburukan dia. Memang kerugian total saya tidak terlalu besar (<10jt), tapi sakit hati saya itu lebih dari itu, dimaki-maki dan diancam konsumen akibat perbuatan Zulkhaery.

    Sebenarnya saya sudah malas membahas ini, toh dia sudah dapat akibat dari perbuatan dia (walaupun belum terlalu parah) dan saya juga telah mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Tapi tak bisa dipungkiri, rasa sakit hati dan dendam ini masih berbekas di hati.

    Saya utarakan ini agar dapat disebarkan, agar tidak bertambah pula korban penipuan dia.

    Cari duit dengan cara bener aja asik kok, ini malah sukanya bikin runyam kehidupan.

    Taubatlah saudaraku Zulkhaery Basrul, hasil kelakukanmu yang bikin orang sakit hati itu dimakan oleh anak istrimu, kasihan liat keluargamu yang diberi nafkah dari hasil “menipu orang”.

    Wassalam…
    TTD…M. KHOFIFUDDIN”

    BalasHapus

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO