Solidaritas Mekanik Masyarakat Dan Survivalitas Pengusaha Muslim Perkotaan Di Ponorogo

Ringkasan : Fenomena perkembangan pengusaha muslim perkotaan di Ponorogo sangat menarik untuk diamati. Fluktuasi peran pengusaha muslim perkotaan, mulai jaman keemasan pada tahun 1950 sampai akhir tahun 1960, jaman kemerosotan pada tahun 1970-an dan jaman kebangkitan kembali mulai akhir tahun 1980-an, memberikan gambaran yang jelas tentang adanya upaya yang gigih dari pengusaha muslim perkotaan untuk berperan lebih besar dalam perekonomian di kota Ponorogo.

Kegigihan pengusaha muslim perkotaan tersebut tentu saja memerlukan kerja keras dan terdapat banyak faktor yang mempengaruhi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui survavilitas pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo. Secara lebih rinci penelitian ini untuk mengetahui 1) Solidaritas mekanik masyarakat muslim di kota Ponorogo; dan 2) Etos kerja pengusaha muslim perkotaan di kota Ponorogo.
Berdasarkan fokus dalam penelitian ini, maka sebagian besar data dan sumber data diperoleh di wilayah perkotaan. Dari sebanyak sembilan belas kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Ponorogo (Kecamatan Kota) Kabupaten Ponorogo, sebagian besar usaha perdagangan dari pengusaha muslim berada di tiga Kelurahan, yaitu Kelurahan Mangkujayan, Kelurahan Banyudono dan Kelurahan Bangunsari. Dengan demikian lokasi penelitian difokuskan pada tiga kelurahan tersebut. Dengan demikian yang menjadi subyek penelitian adalah para Pengusaha Muslim Pribumi yang lokasi usahanya berada di wilayah perkotaan, yaitu di Kelurahan Mangkujayan, Kelurahan Banyudono dan Kelurahan Bangunsari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik Indepth Interview atau wawancara mendalam. Sedangkan untuk menganalisis data dengan menggunakan Model Interaktif Analisis Data.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian adalah bahwa masyarakat muslim Ponorogo dengan solidaritas mekaniknya telah membantu survavilitas pengusaha muslim. Selain itu pengusaha muslim pribumi mempunyai etos kerja yang tinggi. Semangat kerja mereka tidak hanya didorong oleh motif-motif ekonomi, yaitu supaya bisa memenuhi kebutuhan ekonomi semata, tetapi juga didorong oleh motif religi dan motif sosial. Tingginya etos kerja para pengusaha muslim pribumi dalam menjalankan usahanya adalah modal utama atas survivalitas bisnis mereka selain mereka punya pengalaman dan ketrampilan yang cukup. Etos kerja yang tinggi yang dimiliki oleh para pengusaha muslim pribumi tersebut belum didukung sikap profesional layaknya para pelaku bisnis yang berhasil. Hal ini terbukti dengan tidak adanya jaringan kerja diantara para pengusaha, bahkan mereka sangat mengandalkan pada ikatan emosi masyarakat sesama muslim. Lebih dari itu mereka dalam melakukan promosi jarang menggunakan media periklanan modern, seperti surat kabar dan radio, tetapi lebih mengandalkan pada metode promosi dari mulut ke mulut.
(Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Penelitian Nomor : 185/SPPP/PP/DP3M/IV/2005)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO