Dampak Perayaan Grebeg Suro Tahun 2006 terhadap Kondisi Sosio-Ekonomi Masyarakat Ponorogo dan Pelaksanaan Festival Reyog Nasional Tahun 2006

Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : a) Secara mayoritas pelaku bisnis menyatakan bahwa pada Perayaan Grebeg Tahun 2006 terjadi penurunan pendapatan jika dibandingkan dengan tahun lalu (tahun 2005). Penurunan tersebut, menurut mereka, banyak disebabkan oleh sepinya pengunjung yang dikarenakan kondisi cuaca yang cenderung hujan;
b) Dari sisi pendapatan, total pendapatan pelaku bisnis atau dapat disebut total perputaran uang yang terjadi selama Perayaan Grebeg Suro Tahun 2006 adalah sebesar Rp. 3.038.543.333,-; dan c) Terkait dengan penyelenggaraan Festival Reyog Nasional ke 12 tahun 2006 secara umum berjalan baik dan lancar, baik terkait dengan persiapan, proses pelaksanaan, maupun hasil akhir FRN. Beberapa kekurangan menyebar di beberapa aspek teknis, meliputi; keterbatasan sosialisasi FRN, tata panggung yang sering terkendala oleh cuaca (hujan), belum adanya pedoman penilaian yang representatif berdasar pesan-pesan substantif seni Reyog sesuai karakter masyarakat Ponorogo, keterbatasan tempat transit peserta (terutama penyediaan kursi berikut penyambutan peserta FRN). Terlepas dari kekurangan yang ada itu, penyelenggaraan FRN ke 12 tahun 2006 ini mengindikasikan masih kuatnya apresiasi masyarakat terhadap FRN, baik dari aspek peserta maupun masyarakat penonton. Karena itu kemungkinan pengembangan sekaligus penguatan pesona wisata melalui event ini masih sangat terbuka lebar.
Sedangkan rekomendasi yang dapat disampaikan adalah : a) Perayaan Grebeg Suro yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo terbukti mampu mengerakkan perekonomian di Ponorogo dan mampu mendorong tumbuhkembangnya usaha-usaha bisnis yang dapat mengurangi angka pengangguran. Oleh sebab itu, ke depan Pemerintah Kabupaten Ponorogo diharapkan akan dapat lebih mendorong dan mengembangkan usaha-usaha bisnis lokal dan sekaligus meningkatkan promosi produk-produk unggulan Ponorogo; b) Beberapa kekurangan yang ada dan terjadi dalam event FRN sangatlah wajar, jika mempertimbangkan lingkup festival setingkat nasional. Namun demikian, sebuah langkah bijak memang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Ponorogo, misalnya pada aspek tata panggung yang sering terkendala oleh cuaca, terutama hujan bias disikapi dengan mengantisipasinya dengan penutup panggung yang bersifat fleksibel (bias dibuka dan ditutup sesuai dengan kebutuhan), begitu seterusnya untuk berbagai kekurangan yang lain, mengingat kualitas penyelenggaraan FRN jelas akan berdampak pada penguatan seni Reyog ini semakin bermakna dan lestari. Dimasa mendatang hendaknya Ponorogo bukan hanya menjadi penyelenggara Festival Reyog Nasional secara berkala, tetapi juga menjadi Laboratorium pengembangan Seni Reyog tersebut.
(Kerja sama antara Panitia Besar Grebeg Suro Kabupaten Ponorogo dengan Kelompok Studi Masyarakat Ponorogo, Tahun 2006)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO