DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM WAROK PONOROGO

Abstrak : Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan penelitian tentang dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo. Aspek ini menarik untuk diteliti, mengingat warok Ponorogo yang dikenal selama ini, seolah tidak mungkin untuk melakukan karya di bidang pemikiran Islam. Bahkan yang berkembang selama ini, warok selalu akrab dengan pencitraan sosok negatif disebabkan bayang-bayang sisi gelap kehidupannya, berkaitan dengan sikap jumawah dan penyimpangan seksual. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dua tipologi pemikiran Islam yang diwakili oleh Kiai Ma’shum melalui seni reyog dan Kiai Syukri melalui warok kanuragan berdampak secara signifikan terhadap pengembangan seni reyog pada sati sisi, dan peningkatan keberagamaan warok kanuragan pada sisi yang lain. Dari hasil penelitian ini ditemukan masalah penelitian baru, yakni berkembangnya pola Islamisasi di kalangan warok kanuragan terkait dengan peningkatan kualitas keberagamaan di kalangan konco reyog dan warok Ponorogo secara umum.

Kata kunci : Warok, Olah Kanuragan, Pemikiran Islam, Islamisasi

PENDAHULUAN
Bisa diduga, bahwa kesenian ini menjadi alat dakwah yang sangat efektif pada masanya. Dan, itulah yang memang terjadi kemudian. Simbolisasi instrumen Reyog, diantaranya; manik-manik yang dipasang di paruh merak dimaksudkan sebagai simbol tasbih (alat ber-zikr yang berfungsi sebagai alat untuk memastikan nominal bacaan zikr); jumlah dan warna pakaian penari (jathil) dimaksudkan sebagai lambang nafsu yang berada di dalam diri manusia, dimana hal-hal yang baru disebut itu menjadi bukti adanya gerakan dakwah islamiyah yang sangat sistematis. Selanjutnya, posisi R. Katong sebagai penguasa menjadi strategis dalam mewarnai agama rakyatnya, terutama para tokoh kota ini dari berbagai lapisan sosial maupun agama. Para tokoh inilah yang dikemudian hari menjadi pilar-pilar pelestari dan pengembang kesenian Reyog Ponorogo itu.

Dalam situasi tertentu, para tokoh, sebagaimana diterangkan di atas, selanjutnya mendapat gelar kehormatan ; para warok. Belum ada data obyektif, memang, untuk memastikan jati diri keberagamaan para warok itu; apakah Muslim ataukah non-Muslim (Kejawen, Animis, Dinamis, Hindhu, Budha). Namun, jika mencermati kosakata sebutan yang disandangkan kepadanya, yakni “warok”, maka jelas ia diambil dari kosa kata Arab dari kata “wira’i” artinya orang yang selalu menjaga kehormatan diri. Dari sini bisa diasumsikan, bahwa para warok itu adalah Muslim. Hal ini dikuatkan dengan kenyataan ruang dan waktu saat itu, dimana R. Katong sangat berkepentingan untuk membumikan sekaligus mengembangkan agama Islam di bumi Ponorogo ini.
Dinamika perubahan jaman telah membawa dampak terhadap berubahnya orientasi hidup para warok. Definisi warok yang semula terbatasi hanya untuk orang-orang yang memiliki kanoragan, kasekten tinggi (dalam arti yang sesungguhnya dalam bentuk kekuatan fisik dan lahir; kuat tirakat, prihatin sekaligus ruhaninya, sehingga karenanya mereka tidak mempan diterjang senjata tajam, otot kawat balung wesi), telah bergeser dan melebar menjadi milik siapapun (baik dlondonge wong Ponorogo; “penduduk asli Ponorogo” maupun pendatang) yang ditokohkan karena jasa-jasanya dalam membangun peradaban kota ini. Karena itu, deretan daftar warok menjadi panjang, bahkan pada saat ini, para warok dalam pengertian kedua itu, ternyata yang lebih mendapatkan ruang gerak memberikan kontribusi riil dalam pengembangan masyarakat Ponorogo.
Para warok, yang kebanyakan berlatar intelektual Muslim itu dituntut oleh ruang dan waktu untuk memberikan kontribusi nyata, terutama di bidang pemikiran Islam di Ponorogo. Hal ini mengingat begitu panjangnya masa interaksi Islam dengan dunia masyarakat Ponorogo (dimana sebagaimana masyarakat lain di Jawa telah memiliki sejumlah keyakinan atau “agama” sebelum Islam datang, dalam stadium telah mendarah mendaging dalam kehidupan mereka), telah membentuk Islam dalam interpretasi mereka (yang sangat kental dengan aspek-aspek dari keyakinan atau “agama” asal tersebut). Persoalan yang muncul kemudian, bisa diduga, bahwa ada banyak aspek kehidupan mereka yang jauh dari ruh ajaran Islam itu sendiri (baca: “syirk”; menyekutukan atau menduakan Tuhan dengan sesuatu yang lain). Interpretasi terhadap Islam yang diwujudkan dalam aksi pemelukan Islam oleh masyarakat Ponorogo, jelas akan terus membutuhkan pencerahan dari para tokoh masyarakat (warok) tersebut. Pemikiran Islam, dengan demikian, tidak sekadar perlu diperhatikan para warok itu, tetapi bahkan harus dilakukan, dalam rangka menjembatani kesulitan-kesulitan berekspresi sebagai Muslim disebabkan oleh jeratan-jeratan keyakinan masa lalunya.
Penelitian ini bisa dianggap penting, mengingat belum pernah dilakukan penelitian tantang warok dari aspek pemikiran Islam, terkait dengan upaya pencerahan masyarakat (baca : Islamisasi secara kualitatif). Beberapa penelitian yang telah dilakukan, lebih terfokus kepada kaji budaya seni Reyog berikut Warok Ponorogo (pada aspek profil kanoragan, kasekten nya), sehingga kontribusi dan peran yang lebih besar dalam pengembangan dan pembangunan masyarakat sendiri, terabaikan. Penelitian ini juga dimungkinkan akan membuka wacana baru bagi dunia pe-warok-an di Ponorogo. Selama ini, warok diklaim hanya bagi mereka yang memiliki “olah kanoragan” tinggi, dan inilah yang selama ini dikawal oleh masyarakat Ponorogo. Padahal, mestinya, sesuai dengan istilahnya, warok mestilah tidak sebatas itu. Sangat niscaya warok dimaknai lebih dari sisi partisipasi aktifnya dalam memberikan kemanfaatan bagi pembangunan masyarakat Ponorogo.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka pertanyaan permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana dinamika pemikiran Islam yang dilakukan oleh para warok Ponorogo ?. Kemudian agar memperoleh jawaban penelitian yang lebih rinci dan mampu mendukung analisis pertanyaan permasalahan penelitian itu, maka akan dicari jawabannya lewat pengembangan permasalahan penelitian berikut ; a) Bagaimana perkembangan Islam di Ponorogo berikut hubungannya dengan adat setempat ?; b) Bagaimana konsepsi tentang warok Ponorogo dari masa ke masa ?; c) Apa saja kontribusi pemikiran Islam para warok di bidang pengembangan umat Islam Ponorogo secara kualitatif ?; dan d) Apa saja kontribusi para warok itu bagi pembangunan masyarakat Ponorogo, sesuai dengan bidangnya masing-masing ?.
Dinamika pemikiran Islam yang berkembang di Ponorogo, diasumsikan terkait rapat dengan seni Reyog Ponorogo, mengingat aktifitas warok juga terkait erat dengan kesenian yang telah menjadi kebanggaan nasional ini, sekalipun antara warok dan seni reyog itu sendiri memiliki tradisinya sendiri-sendiri. Karena itu, permasalahan penelitian yang telah dirumuskan di atas, akan disetting fokus kajiannya melalui seni reyog Ponorogo.

METODE PENELITIAN
Data yang hendak dikumpulkan adalah tentang dinamika pemikiran Islam. Dari ungkapan konsep tersebut, jelas, bahwa yang dikehendaki adalah suatu informasi dalam bentuk deskripsi. Karena itu, penelitian ini lebih mempunyai perspektif emik, artinya data yang dikumpulkan diupayakan untuk dideskripsikan berdasarkan ungkapan, bahasa, cara berpikir, pandangan subjek penelitian, sehingga apa yang menjadi pertimbangan dibalik pemikiran, dapat terungkap.
Data tentang dinamika pemikiran warok Ponorogo, akan digali melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis, melalui proses induksi-interprtetasi-konseptualisasi, baik saat di lapangan maupun di luar lapangan. Sedangkan validasi data akan dilakukan bersamaan dengan analisis data, baik saat di lapangan maupun terutama setelah dari lapangan dengan memilah data yang masih meragukan untuk dilakukan reduksi data kemudian diteruskan dengan melakukan verifikasi data, dianalisis kembali dan terakhir akan didiskusikan dengan informan penelitian untuk memastikan validitas temuan.

HASIL PENELITIAN
Perkembangan Islam dan Adat di Ponorogo
Kondisi keberagamaan masyarakat yang erat dengan adat tradisi kepercayaan lama, seperti di Ponorogo, nampaknya berdampak pada kualitas keberagamaan berikutnya. Hingga saat ini pemelukan keberagamaan itu masih bercampur dengan kepercayaan lama, bahkan sulit untuk memilah antara adat tradisi yang terwarisi dari kepercayaan lama itu dengan ajaran Islam yang tengah mereka peluk. Disinilah sering terjadi yang namanya tumpang suh (tumpang tindih) antara adat dan agama (Islam); aspek ajaran Islam sering disikapi sebagai adat, dan sebaliknya adat disikapi layaknya agama.
Dalam hidup keseharian, pencampur-adukan itu mewujud di dalam berbagai ritual, misalnya kenduri. Kenduri yang diboyong dari kepercayaan animisme dinamisme, atau Hindhu bertemu di dalam semangat shadakah (di dalam ajaran Islam). Di dalam ritual kenduri, aspek simbol sesaji dalam kepercayaan lama sangat kental. Perangkat kenduri dalam bentuk ambeng (nasi lengkap dengan lauknya ditaruh ditempat sejenis dulang atau leser; sebuah perkakas dapur yang berfungsi untuk menaruh gelas atau piring siap saji), ditata menurut urutan sesaji. Ada sedikit beda terkait dengan isi ambeng disebabkan berbeda tujuan sesaji-nya. Ambeng akan dilengkapi dengan sondreng (terbuat dari parutan kelapa yang digoreng dan dikasih bumbu untuk melengkapi lauk) dan apem (kue manis terbuat dari tepung dan ditaruh disekeliling ambeng), ketika ambeng ini diperuntukkan untuk memperingati ruh leluhur yang telah meninggal dunia. Sementara ambeng yang diperuntukkan selain tujuan itu tanpa dikasih dua kelengkapan tersebut. Dalam praktik ritual sesaji lewat kenduri ini, biasanya didahului dengan hidiyah (kirim surat al-Fatihah) untuk para leluhur diteruskan dengan membaca surah Yasin dan atau tahlil. Disinilah masih sangat nampak perpaduan dua unsur itu; adat dan ajaran Islam.
Memudarnya tradisi ritual sesaji pada seni reyog ini, nampaknya memang terilhami oleh pemikiran Kiai Ma’shum berkaitan dengan pemikiran Islam beliau yang dituangkan dalam meramu tampilan seni reyog islami yang dipublikasikan secara gencar lewat festival reyog islami yang diselenggarakan di pesantrennya; di Ponpes Modern Slahung Ponorogo. Festival ini dilakukan tahun 2004 dan 2005. Sebagaimana dijelaskan oleh Ustad Syarifan Nurjan, S.Ag., MA (bagian Humas Pesantren dan tangan kanan Kiai Ma’shum), animo masyarakat terhadap festival reyog islami ini cukup besar, baik dari peserta festival maupun masyarakan yang menikmati pentas reyog tersebut. Ada 22 group reyog yang mengikuti festival ini. Sekalipun belum melibatkan peserta dari luar propinsi (1 group peserta berasal dari Kabupaten Magetan Madiun), namun justru apresiasi masyarakat Ponorogo yang cukup besar itu mengisyaratkan sebuah keinginan besar menyambut seni reyog islami yang selama ini tak pernah mereka lihat dan nikmati. Nuansa islaminya, lanjut Ustad Syarifan, sudah sangat kental begitu pentas dimulai. Masing-masing group reyog membuka pentas dengan doa-doa kepasrahan kepada Allah SWT, yang ditembangkan dengan dua bahasa; Arab dan Jawa Ponorogo-an. Iringan dan hentakan gendang dikuatkan alunan gong besar, membuat hati haru dan menghadirkan suasana layaknya di sebuah majlis para shufi.

Konsepsi Warok dari Masa ke Masa
Beberapa pandangan yang berasal dari para Warok tentang warok bervariasi. Kasni Gunopati (karena ketokohannya, terutama di bidang seni Reyog Ponorogo, beliau tersohor dengan sebutan Mbah Wo Kucing), misalnya, menyatakan bahwa warok berasal dari kata wewarah (wongkang sugih wewarah). Jadi warok adalah orang yang mampu memberikan petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup dan kehidupan yang baik. Warok, lanjutnya, adalah orang yang memiliki tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang telah sempurna dalam hidup dan kehidupan lahir maupun batin). Dikarenakan konsep warok seperti ini maka sudah barang tentu untk menjadi seorang warok dibutuhkan bekal yang memadahi. Bekal yang dimaksud disini lebih pada “laku prihatin” untuk membekali diri baik fisik (kanuragan) maupun batin (spiritual). Di antara laku prihatin itu, ia contohkan, saat masih ngudi kaweruh (mbeguru wong sepuh, wong ngerti, pinter). Begitu beratnya laku prihatin itu sampai ia menyebrangi lautan luas serta menyusuri hutan belantara.
Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat Ponorogo, definisi dan interpretasi tentang warok nampaknya juga mengalami dinamikanya sendiri. Adalah Pak Kiai Syukri (panggilan akrab KH. Drs. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA pimpinan Ponpes Modern “Darussalam” Gontor Ponorogo) dan Pak Kiai Ma’shum (panggilan akrab KH. Drs. Muhammad Ma’shum Yusuf; pimpinan Ponpes Modern “Arrisalah” Slahung Ponorogo) belakangan dikenal dan masuk deretan warok Ponorogo. Dua orang tokoh ini memaknai warok dengan merujuk kepada akar kata warok itu sendiri, yakni kata Arab. Kiai Ma’shum mengatakan, bahwa “konsep warok dulu sesuai dengan namanya yang berasal dari terjemahan bahasa Arab “wara’a” menjadi wira’i, wara’ (warok, menurut lidah masyarakat Ponorogo) yaitu orang yang mampu menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Kemudian konsep tersebut berubah menjadi kesenian budaya masyarakat Ponorogo”. Darinya lahir sebuah definisi yang lebih menekankan aspek fungsi atau peran sang tokoh dalam membangun masyaraktnya dalam pengertian yang luas, tidak sebatas dari aspek olah kanuragan. Warok menurut mereka adalah tokoh sentral dalam memberikan solusi permasalahan hidup dan kehidupan masyarakatnya. Dan karena itu, ia di tuakan (disepuhake), dalam pengertian menjadi tokoh panutan di dalam sikap, ucap, serta tindaknya. Warok, lanjutnya “yang artinya menjaga diri akan selalu dijaga oleh Allah dan dia tidak akan takut dengan bentuk-bentuk apapun, yang dia takuti hanya Allah. Keberanian tersebut membuat masyarakat Ponorogo mengistilahkan dia (warok) mempunyai kanuragan, kemudian dilebih-lebihkan lagi menjadi warok kanuragan”.
Pandangan serupa disampaikan Kiai Syukri, bahwa warok Ponorogo adalah seorang yang memiliki jiwa yang suci (fitrah), dimana dengan jiwa suci ini seseorang itu mampu menjalani hidup di tengah-tengah masyarakat dengan sangat baik. Jiwanya yang suci dibalut oleh keimanan yang murni kepada Allah SWT, membuat hidupnya selalu diarahkan kepada Sang Pencipta, dimana pada gilirannya mengantarkan dirinya mampu memaknai hidup ini dengan sebuah kemanfaatan. Hidup adalah untuk menebar kemanfaatan yang luas kepada masyarakat. Ia mengatakan “warok itu ya orang yang wira’i, suci jiwa dan hatinya, karena ia getol menjaga dirinya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Gerak warok adalah gerak ketuhanan, gerak yang selalu menghasilkan kemanfaatan bagi masyarakatnya. Oleh karena itu ia selalu dituakan dalam segala urusan di tengah-tengah masyarakatnya. Ia dijunjung tinggi karena kejujurannya, kesesuaian antara ucap dengan tindaknya. Ia dianggap tokoh sakti dalam pengertian kehebatan luar biasa dalam aspek kematangan diri serta kemanfaatan yang disebarkan itu.”

Kontribusi Para Warok Bagi Peradaban Kabupaten Ponorogo
Warok, berdasarkan berbagai keterangan tersebut bisa dipastikan memiliki kontribusi nyata bagi peradaban Ponorogo. Di bidang seni reyog, misalnya, tokoh warok menempati posisi penting di dalam pengembangan kesenian ini, padahal antara seni reyog dan warok memiliki dunianya sendiri dan tidak pernah bersinggungan. Entah sejak kapan, warok menjadi unsur penting di dalam sebuah pentas seni reyog ini. Dalam episode pentas, biasanya tari warok mengawali keseluruhan pentas reyog; tari jathil, tari pujangganong, dan kemudian tari klono sewandono. Bahkan menurut Mbah Wo Kucing, keberadaan warok di dalam kesenian reyog berkaitan dengan perubahan citra, terutama terkait dengan peneguhan makna dan nilai hidup atau falsafah hidup yang terdapat di dalam kesenian ini. Ungkap beliau; “tanpa sang warok kesenian ini kehilangan makna”.
Bahkan menurut Kiai Ma’shum, kontribusi warok Ponorogo bagi peradaban Kabupaten Ponorogo, meliputi empat bidang Sosial, Budaya, Politik, dan Keamanan. Di bidang sosial, warok berhasil menciptakan kerukunan dan ketentraman masyarakat. Peran utama sang warok sebagai tumpuan masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi, menciptakan masyarakat Ponorogo rukun damai. Kehadiran sosok warok sebagai panutan membuat sebuah konflik yang terjadi, misalnya, menjadi mudah dileraikan. Sistem kepribadian sang warok yang relatif matang, berpengaruh erat terhadap hasrat masyarakat untuk menjadikan rujukan dalam mensikapi hidup dan kehidupan sehari-hari. Dan karena itu, masyarakat merasa terayomi, merasa tenteram menjalani kehidupan keseharian bersama-sama dengan sang warok. Kepedulian sang warok akan terciptanya kerukunan hidup, lebih jauh masuk dalam komunitas pelaku seni atau seniman. Mereka bersedia untuk menjadi perantara ataupun penengah dalam mewujudkan kerukunan itu, hingga juga bersedia berkurban apapun yang mereka mampu. “Saya tidak suka kalau para seniman itu congkrah, eker-ekeran (saling berebut; berebut kebenaran, popularitas, dan semisalnya). Saya bersedia berkurban apapun untuk mendukung kegiatan mereka. Tetapi, satu pesan saya semua harus rukun,” ujar Mbah Wo Kucing penuh kearifan. Kepedulian para warok akan kerukunan ini, pada gilirannya membuat pemerintah menyambut niat luhur itu dengan mewujudkan sebuah padepokan reyog yang berlokasi di jalan Pramuka sebelah timur stadion Bathara Kathong.

Kontribusi Para Warok di Bidang Pemikiran Islam
Kemunculan warok dari dua pesantren besar di Ponorogo, dengan memberikan tawaran pemikiran Islam bagi pengembangan masyarakat Ponorogo, menghadirkan paradigma baru terutama bagi laju pelestrian budaya lokal di Kabupaten Ponorogo. Di bidang seni reyog telah melahirkan karya reyog islami, sedangkan di bidang pengembangan kualitas keberagamaan berhasil masuknya beberapa warok kanuragan ke dalam komunitas Muslim.

Penjelasan Atas Temuan Penelitian
Dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap informan, yang terdiri dari warok kanuragan dan warok Muslim diperoleh penjelasan, bahwa pemikiran Islam yang digulirkan oleh warok Muslim atau para Kiai, dalam hal ini Kiai Syukri dan Kiai Ma’shum, telah mampu menghadirkan paradigma baru dalam tradisi warok Ponorogo secara khusus dan masyarakat Ponorogo secara umum. Paradigma dalam tradisi warok selama ini penuh dengan citra negatif terkait dengan sisi gelap tradisi warok, terutama Mo Limo; Main, Madat, Maling, Madon, dan Marok”, disamping juga tercitrakannya sisi gelap kehidupan sang warok, sebagai kaum homo seksual, terkait dengan adanya tradisi gemblak.
Para warok kanuragan yang menjadi sasaran bidik pemikiran Islamnya, dengan metode sambang-sinambang mampu menjadikan pemikiran yang digulirkan itu mengalir dengan sangat mulus, seolah tanpa hambatan. Hingga ideologi Islam Kejawen yang telah lama mapan dihati para warok kanuragan seolah luntur diguyur hujan yang menyejukkan. Sambang-sinambang itu sangat aktif ia lakukan, baik fisik maupun non-fisik (lewat telepon), sehingga para warok yang dituju merasa layaknya bagian dari keluarga Gontor. Saat ini para warok kanuragan, seperti Mbah Sokerto (Kauman Somoroto), Mbah Jolego, dan sebagainya telah menjadikan hidup dan kehidupannya sebagai Kiai di lingkungannya; memiliki Masjid dan subyek binaan dari masyarakat lingkungan dan para konco reyog yang berada di bawah kepemimpinannya.
Sementara, Kiai Ma’shum sebagai pimpinan pondok modern Arrisalah Slahung Ponorogo, memiliki naluri seni yang cukup tinggi. Karakternya yang ceplas-ceplos menyampaikan kebenaran, justru membuat Kiai ini disenangi masyarakat. Kejujuran dan komitmennya terhadap kemajuan masyarakat Ponorogo, membuat banyak pihak terkagum-kagum. Wajar, ketika beliau menggulirkan ide reyog Islami, tidak membuat masyarakat tersentak kecewa, melainkan mengapresiasi pemikiran tersebut dengan sangat baik dan antusias.
Strategi budaya luwes gandes tur pantes, yang dilakukan lewat pemikiran Islam tidak mengakibatkan para pelaku reyog dengan pakem animisme, dinamisme, Hindhu yang terangkum dalam pakem reyog menjadi gerah dan menentang upaya tersebut, melainkan malah bangga dengan paradigma reyog islami tersebut. Nampaknya hal ini dipicu oleh kegelisahan mereka akan pudarnya apresiasi masyarakat Ponorogo sendiri disebabkan oleh, salah satunya, aspek kemaksiatan tersebut. Apa yang dilakukan oleh Kiai Syukri maupun Kiai Ma’shum, berkesesuaian dengan pendapat Rogers, bahwa warok sebagai linkers sang agen perubahan mempunyai posisi yang sangat penting. Ia memiliki sifat-sifat seperti opinion leaders; sebagai panutan masyarakatnya, punya rasa empati pada masyarakatnya, dan memiliki kepedulian pada masyarakatnya (Hidayat: 1997; 88) Pendekatan-pendekatan yang luwes dan mengakar, nampaknya juga bisa diturunkan dari teori ini.

Pemikiran Islam Perspektif Pengembangan Seni Budaya
Konsep pemikiran Islam pada aspek ini difokuskan pada tiga even budaya yang ada di Ponorogo; seni reyog, grebeg suro, dan larung risalah. Strategi penanaman ide Islami pada ketiga even budaya ini hampir sama, yakni menjadikan seni budaya yang telah ada sebagai media sosialisasi pemikiran Islam. Di dalam proses ini, sang pemikir tidak mengubah perangkat yang telah ada, tetapi hanya mewarnainya. Kekuatan dan kelemahan, beserta styl budayanya dicermati, untuk dikembangkan dalam pola pikir sesuai yang dimaui, dan kemudian darinya mengembangkan karakter imajinasi masyarakat yang dibidik. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Anderson dalam hasil kajiannya terhadap masyarakat Jawa, bahwa hasil proses akulturasi suatu masyarakat tak akan lebur menghilangkan karakter aslinya, tetapi ia jadi hetero-homogi-nitas. Pada kehidupan masyarakat Jawa, kontak antar komunitas berbeda budaya, tidak hanya melihat kekuatan dan kekurangan masing-masing tradisi, tetapi juga styl budayanya, sehingga berkembang seperti karakter imajinasi dari masyarakat bersangkutan (Anderson: 1991; 6-7).
Penerimaan terhadap perubahan paradigma berseni budaya, terutama dalam seni reyog Ponorogo, nampaknya mengalir sebagaimana dalam teori perubahan kultural yang menyatakan bahwa perubahan sosial pada dasarnya adalah perubahan budaya dalam kehidupan masyarakat. Perubahan itu disebabkan, antara lain oleh evolusi, difusi, dan akulturasi. Perubahan itu dituntut karena terjadinya perubahan ruang dan waktu, sehingga tak pernah lepas dari berbagai elemen yang melingkupi kehidupan manusia, seperti historis, perubahan kondisi sosial, kekuasaan, dan kemampuan adaptasi pada realitas sosial yang ada (Giddens: 1995; 227).

Pemikiran Islam Perspektif Pemberdayaan Warok Kanuragan
Dalam kasus Mbah Sisok, misalnya, untuk meluluhkan hati sang warok yang juga memiliki usaha pengrajin reyog ini, tidak segan-segan Kiai Syukri bertandang ke rumahnya untuk sekedar menanyakan kesehatan, usaha, dan seterusnya yang sama sekali tidak terkait dengan ajakan dakwah. Intensitas pertemuan antara keduanya, nampaknya cukup efektif melahirkan keakraban hubungan. Sulit untuk membedakan, apakah masuk dan memeluknya Islam Mbah Sisok karena kesadaran ataukah karena kedekatan dengan Kiai Syukri. Kedua-duanya sangat niscaya manjadi faktor utama, hanya yang menjadi persoalan faktor mana yang lebih duluan menjadi motif.
Demikian halnya yang terjadi pada Mbah Jolego sentuhan-sentuhan kekeluargaan telah membentuk keeratan hubungan persis jalinan kekerabatan. Keduanya benar-benar suyut; saling membutuhkan, saling terikat secara emosional, hingga tanpa terasa gesekan-gesekan siluturrahim yang terus-menerus terjadi itu, mengantarkan Mbah Jolego untuk tidak sekedar menerima kebenaran agama Islam, tetapi bahkan memeluknya secara fanatik. Darinya juga melahirkan sikap amaliah (praksis) dari pemelukan keagamaan itu, yakni hingga Mbah Jolego menunaikan rukun Islam kelima; haji.

Posisi Temuan Empirik Terhadap Teori
Para warok dari kalangan pesantren secara sengaja menunjukkan kepada masyarakat, bahwa mereka benar-benar peduli terhadap pengembangan masyarakat Ponorogo, terutama terkait dengan peningkatan kualitas keberagamaan masyarakat. Hal ini dilakukan mengingat kualitas keberagamaan masyarakat Ponorogo relatif masih memprihatinkan, berkaitan dengan masih bercampur aduknya antara adat tradisi dari kepercayaan lama dengan Islam itu sendiri. Melalui karya pemikiran Islam, para warok itu melakukan pembinaan masyarakat di berbagai bidang kehidupan; terutama melalui seni reyog dan tradisi warok Ponorogo.
Kesadaran para warok dari kalangan pesantren terhadap posisinya sebagai tokoh sentral akan tugas keumatan, disebut August Comte, dkk. (1985) “idea of progress”. Menurut August Comte, dkk., ketika anggota masyarakat mengalami berada di dalam posisi sentral, maka ia akan melakukan pembangunan masyarakatnya melalui dua tahapan, yakni perkembangan dalam “struktur atas” dan “struktur bawah. Struktur atas melahirkan kesadaran tokoh yang dituakan untuk membaca secara cerdas dunia sekelilingnya untuk dilakukan pengembangan masyarakat secara luas. Sedangkan struktur bawah realitas masyarakat itu sendiri. Sang aktor melakukan tindakan pengembangan melalui pemikiran islam yang digulirkan. Dengan demikian, sang aktor dalam hal ini para warok melakukan tindakan sosial melalui pemikiran Islam dalam rangka merespon balik sisi negatif dalam tradisi warok yang telah tercitrakan ke dalam masyarakat dan mendorong pengembangan masyarakat ke arah pemahaman ajaran Islam secara kualitatif.
Gerakan pemikiran Islam yang dilakukan oleh warok Muslim tersebut nampak membawa hasil dengan tumbuhnya minat dan kecintaan masyarakat Ponorogo terhadap seni reyog islami, disamping juga banyaknya warok kanuragan yang secara resmi menguatkan Islam sebagai agamanya. Sementara, dalam perspektif pengembangan keberagamaan masyarakat, banyak tokoh warok kanuragan yang menerima Islam sebagai agama yang dipeluknya, setelah sekian lama mereka memeluk kebatinan kejawen. Kesadaran warok kanuragan yang secara struktur berada di struktur bawah dari para warok Muslim di bidang keberagamaan, pada perkembangannya setelah berhikmat dalam berbagai ritual Islam, seperti naik haji, para warok kanuragan juga menjadi agen pengembangan keberagamaan bagi lingkungan masyarakatnya melalui masjid yang berhasil dibangunnya. Dengan demikian, teori idea of progress dalam lokus struktur bawah pada kasus dinamika pemikiran Islam warok Ponorogo mengalami pengembangan; muncul sub struktur atas yakni warok kanuragan itu sendiri dan sub struktur bawah kondisi sosial dan material masyarakat sang warok.

Implikasi Temuan Bagi Pengembangan Teori
Terhadap konsep “idea of Progress” dari August Comte, Saint Simon, Spencer, dan Marx, terkait dengan dua lokus perkembangan; pertama, adalah perkembangan dalam “struktur atas” atau “kesadaran” manusia tentang diri sendiri dan alam sekelilingnya; dan, kedua perkembangan “struktur bawah” atau kondisi sosial dan material dalam kehidupan manusia, sejalan pola pemikiran Islam yang dilakukan warok Ponorogo. Kesadaran sang warok sebagai linkers dan opinion liders menghasilkan karya dibidang pemikiran Islam dalam rangka meningkatkan keberagamaan masyarakat di semua bidang kehidupan. Akan halnya lokus kedua perkembangan “struktur bawah” ini harus diperluas pemaknaannya, bukan sekedar kondisi sosial dan material yang melingkupi, tetapi pada kasus pengembangan masyarakat Ponorogo, ia juga harus dimaknai “kesadaran” manusia tentang diri dan alam sekelilingnya, dimana dalam hal ini warok kanuragan yang sadar akan posisinya dan kemudian berkembang lagi kesadaran itu untuk mengembangkan masyarakat sekelilingnya, terutama para konco reyog yang berada di bawah kepemimpinannya.
Sementara, teori evolusi August Comte, terkait dengan penahapan dalam perkembangan masyarakat; tahap primitif, peralihan, dan rasional atau ilmiah, tak terjadi sepenuhnya dalam kasus warok kanuragan. Mereka sebenarnya telah lama bersinggungan dengan ajaran Islam, bahkan kitab Kejawen yang mereka pedomani, yakni kitab PAMU (Purwa Ayu Mardhi Utama), banyak berisi ajaran etika yang banyak disadur dari nilai-nilai etika Islam. Perkembangan ke arah pemelukan Islam yang berkualitas, dengan demikian, tidak terjadi secara linier sesuai dengan penahapan perkembangan tersebut, tetapi lebih pada aspek kesadaran sang warok. Karenanya, perlu ada reinterpretasi dan rekonstruksi atas konsep evolusi yang dikemukakan August Comte tersebut.

Implikasi Temuan Bagi Pembangunan Masyarakat
Berdasarkan temuan penelitian di atas, menunjukkan bahwa, pemikiran Islam yang dilakukan warok sudah cukup mengakar, paling tidak pada dataran seni budaya yang ada, terutama seni reyog Ponorogo berikut para warok kanuragan. Hanya saja pola pemikiran seperti ini, masih memiliki kelemahan, terutama pada aspek kontinuitas dan intensifitas, mengingat gerakannya masih sebatas mengandalkan figur sentral, disamping dokumentasi dan publikasi hasil pemikiran yang belum dilakukan, sehingga menghambat proses sosialisasi pada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas.
Karena itu, dalam rangka penguatan dan percepatan peningkatan kualitas keberagamaan masyarakat, perlu dilakukan langkah-langkah berikut: 1) Membentuk jaringan dengan elemen masyarakat yang berkompetens di dalam pendukungan gerakan pemikiran Islam tersebut, misalnya dengan MUI, akademisi Muslim, budayawan Muslim, dan seterusnya; 2) Melakukan dokumentasi tertulis terhadap karya pemikiran Islam yang dilakukan, dalam bentuk buku saku, ataupun buku yang diterbitan oleh penerbit tertentu; dan 3) Melakukan sosialisasi pemikiran Isla secara intens dan terjadwal terhadap terutama konco reyog dan para warok dalam lingkup yang lebih luas.

KESIMPULAN
Berdasarkan temuan penelitian berikut analisis dan pembahasan, dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut : 1) Pemelukan keberagamaan masyarakat Ponorogo dalam tahap belum murni Islam, dalam arti masih tercampur dengan adat tradisi kepercayaan atau agama lama; animisme, dinamisme, Hindhu. Unsur-unsur adat tradisi ini mewujud dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, dan dipraktikkan dalam hidup keseharian, termasuk dalam berseni budaya; 2) Konsep tentang warok terus mengalami perubahan, seiring dengan dilakukannya reinterpretasi dan redefinisi berdasar peran yang dimainkan oleh warok itu sendiri. Konsep warok yang melegenda dari aspek olah kanuragan telah berubah ke arah substansi peran pembangunan masyarakat yang dilakukan. Sehingga identitas warok tak sebatas hanya dimiliki oleh komunitas warok kanuragan, tetapi menjadi siapapun yang memiliki peran sentral bagi pembangunan masyarakat. Fenomena terakhir, warok dari kalangan Muslim, yakni Kiai Syukri dari pondok modern Darussalam Gontor dan Kiai Ma’shum dari pondok modern Arrisalah Slahung diakui masyarakat sebagai warok Ponorogo disebabkan kontribusi mereka dalam pembangunan keberagamaan (Islam) masyarakat. Hingga saat ini berkembang dua identitas warok, yakni warok kanuragan dan warok Muslim; 3) Kontribusi warok Ponorogo bagi pembangunan masyarakat cukup signifikan, menyebar diberbagai bidang; sosial, politik, budaya, dan keamanan. Bidang ini telah dilakukan oleh kubu warok, baik kanuragan maupun Muslim. Sedangkan kontribusi warok dibidang pemikiran Islam, khusus dilakukan warok Muslim, yang diwakili oleh Kiai Syukri dan Kiai Ma’shum dan telah berhasil membawa kemajuan di bidang seni budaya maupun peningkatan kualitas keberagamaan masyarakat; dan 4) Di bidang seni budaya, pemikiran Islam warok telah memunculkan paradigma bari seni reyog; dari pakem tradisi kepercayaan lama kepada reyog islami. Nilai islami produk pemikiran warok ini menyebar di seluruh tampilan reyog; gerak tari, koreografer, dan karawitan atau iringan gamelan reyog. Adapun di bidang pengembangan keberagamaan warok kanuragan telah berhasil mengantarkan beberapa warok kanuragan memeluk Islam sekaligus menjadi agen atau da’i bagi masyarakat lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA
Dirdjosanjoto, Pradjarta, 1999, “Memelihara Umat; Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa”, Desertasi di Vrije Universiteit Amsterdam, Penerbit LKIS, Yogyakarta.
Geertz, Clifford, 1983, “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”, Jakarta.
Kurnianto, Rido, 1997, “Dampak Kesenian Reyog Ponorogo terhadap Jiwa Keagamaan Konco Reyog di Kabupaten Ponorogo”, LPSK UNMUH Ponorogo.
---------------------, 2005, “Perlawanan Kultural Tradisi Rakyat (Tradisi Larung Risalah dalam Pergumulan Agama, Kekuasaan, dan Tradisi di Ngebel Ponorogo”, LPPM UNMUH Ponorogo.
Rogers, Everett M., 1983, “Diffusion of Innovations”, The Free-Press A Division of Macmillan Publishing Co Inc., New York.
Sanderson, Stepen, 1995, “Macrosociology”, Alih bahasa Farid Wajidi, Penerbit Rajawali Press, Jakarta.
Schegel, Stuart S., 1977, “Grounded Research di dalam Ilmu-Ilmu Sosial”, Penerbit PLPIIS, Banda Aceh.

(Artikel ini ditulis oleh Rido Kurnianto dan Nurul Iman, dan telah diterbitkan dalam Jurnal Fenomena Volume 6 Nomor 1 Januari 2009, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas Muhammaidyah Ponorogo)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Mei 2009)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: P2FE_UMP, Ponorogo (Oktober 2010)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit: Ardana Media Yogyakarta (Maret 2009)

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit : Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press, Maret 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit Univ. Muhammadiyah Ponorogo Press (Juli 2013

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

Penerbit UNMUH Ponorogo Press Bulan Juli 2015

  ©REYOG CITY. Template by Dicas Blogger.

TOPO